Minal Aidin Wal Faizin yang Tidak ada dalam Budaya Arab

Kata-kata ini berasal dari Bahasa Arab, tapi tidak dikenal dalam budaya Arab.

Lebaran hampir tiba, beberapa hari lagi akan dirayakan. Frasa yang akan banyak diucapkan orang di hari kemenangan ini adalah Minal Aidin Wal Faizin. Seringkali frasa berbahasa Arab ini diikuti dengan frasa berbahasa Indonesia: maaf lahir dan batin. Orang mengucapkan dua frasa ini biasanya sambil menyorongkan tangan untuk bersalaman. SMS pun akan banyak mengutip frasa ini. Bahkan iklan di media cetak dan televisi juga menampilkan rangkaian kata ini. Seringkali pula tulisan berhuruf latin ini dibikin sedemikian rupa sehingga menyerupai kaligrafi huruf Arab.

Tapi, tahukah Anda bahwa frasa Minal Aidin Wal Faizin itu tidak dikenal dalam budaya Arab?

Saya baru saja membaca buku berjudul Bahasa! terbitan TEMPO. Di halaman 177 buku ini, Qaris Tajudin mengungkapkan bahwa memang frasa Minal Aidin Wal Faizin “berasal dari bahasa Arab, bahasa yang banyak menyumbang istilah keagamaan di Indonesia, baik agama Islam maupun Kristen.” Qaris mengatakan bahwa selain tidak dikenal dalam budaya Arab, frasa Minal Aidin Wal Faizin juga hanya dapat dimengerti oleh orang Indonesia. Frasa ini bisa ditemui dalam kamus bahasa Indonesia, tapi tidak ditemukan dalam kamus bahasa Arab, kecuali dalam lema kata per kata.

(Copy artikel berjudul Halal bi Halal oleh Qaris Tajudin itu bisa dibaca di halaman blog ini)

Lalu, apa arti Minal Aidin Wal Faizin? Terjemahan frasa ini adalah: dari orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Mungkin maksud lengkapnya adalah:”Semoga Anda termasuk orang-orang yang kembali (ke jalan Tuhan) dan termasuk orang yang menang (melawan hawa nafsu).” Oh, saya baru tahu sekarang bahwa Minal Aidin Wal Faizin itu artinya bukan “maaf lahir dan batin”.

Demikianlah salah satu keunikan lebaran di Indonesia. Selamat menanti datangnya hari lebaran.

104 thoughts on “Minal Aidin Wal Faizin yang Tidak ada dalam Budaya Arab

  1. @aria turns,
    idul adha di arab (makkah) tidak meriah, yang ada itu sepi
    semua orang mayoritas wukuf pada saat itu di arafah,

    bahkan itu merupakan titik terendah pengunjung masjidil haram, saat itulah kabah dimandikan dan diganti sarungnya

  2. Sebenarnya tak masalah boss, karena toh tidak semua harus berasal dari Arab, hehehe… Niatnya kan bagus. Kalau disebut bid’ah ya diserahkan pada orang yang mengerti dan ahlinya.

    Contohnya, di Arab tidak ada Jamus Kalimasada yang terkenal di Jawa :-P

    Meski demikian, kalau saya minal aidzin wal faidzin pada mas Puji gpp dong, soalnya suka ngeyel :-D

  3. kata2 mohon maaf lahir batin cuma ada di indonesia, kalau di malaysia, thailand, singapore, brunei, bilangnya zahir bathin..hehehe..teman2 foreigner saya sering terkejut kalau kita bilang minal aizin wal faizin pas lebaran, soale mereka gak tau, biasa cuma bilang eid mubarak, taqabbalallahu minna wa minkum, trus pulang deh ke rumah masing2, dianggap hari libur biasa, emang kalo di indo meriah banget ya lebaran…jadi pengen lebaran di indo…

  4. Assalamu’alaikum
    Taqobbalallahu minna wa minkum lebih baik dibandingkan dengan Minal Aidin wal Faidzin, karena Taqobbalallahu minna wa minkum mengandung do’a buat saudara-saudara sesama muslim (artinya: Semoga Allah menerima amal kami dan amal Anda). Mau ngucapin Minal Aidin wal Faidzin ya boleh boleh saja selama gak dianggap bagian dari ajaran agama :)

  5. arti Minal Aidin Wal Faizin? Terjemahan frasa ini adalah: dari orang yang kembali dan orang-orang yang menang. Mungkin maksud lengkapnya adalah:”Semoga Anda termasuk orang-orang yang kembali (ke jalan Tuhan) dan termasuk orang yang menang (melawan hawa nafsu).”

    Kalau dilihat dari artinya seperti itu, maka bener juga ya kalau Minal Aidin Wal Faizin selalu diikuti kalimat : Maaaf Lahir Batin… jadi lengkap begitu.. :-)

  6. saya yakin banyak dari kita yg bangga indonesia punya budaya yang nggak dimiliki negara lain. tapi sayangnya, karena cuma ikut2an, kita jadi salah kaprah dalam memahami istilah2 tertentu.

    menurut saya, isu2 seperti ini perlu diangkat terus menerus supaya menimbulkan public awarness. caranya? dibikin banner, mungkin.

    jadi, ada yang mau bikinin? :)

  7. @hendri (16)
    Menurut saya Minal ‘aidin juga do’a, sama seperti taqoballallahu …
    Sebagai doa, berarti keduanya sama – sama bagian dari agama. Apakah ada yang tahu dalil naqli (hadits) untuk ucapan taqobalallahu ?

    Doa beda dengan sholat, bisa menggunakan redaksi apa saja dan bahasa apa saja selama kandungan isinya tidak bertentangan dengan ajaran agama.

    @vavai (7), damian (13)
    Apakah berdoa termasuk bid’ah ?

    @kucingkeren(20)
    Benar Minal ‘Aidin itu frasa yang terpotong dari sebuah doa lengkap, khas Indonesia, khususnya kalangan pesantren. Kalangan awam cuma kenal frasa akhirnya saja :-)

    Kalau saya memilih keduanya, sehingga ucapan yang ada di kartu lebaran saya dulu (zaman belum umum SMS :-) kurang lebih demikian:

    —————–
    Ied Mubarrok
    Selamat Hari Raya Idul Fitri

    1 Syawal 1429AH

    Taqobbalallahu – minna – wa minkum – shiyamana – washiyamakum
    Semoga Allah menerima – (amal) dari kami – dan (amal) dari kalian – (dan juga menerima) puasa kami – dan puasa kalian.

    Ja’alanallahu – wa iyyakum – minal ‘aidin – wal fa’izin
    Semoga Allah menjadikan kami – dan juga kalian – (termasuk) dari (golongan orang – orang) yang kembali (kepada fitrah) – dan yang menang (melawan hawa nafsu)

    Mohon maaf Lahir Batin
    —————–

    Nah, ucapan yang tidak ada versi arabnya :-)

    • Iya sih, tapi kan kalau ada yang sudah dicontohkan oleh Muhammad SWA kenapa kita nggak ikutin?. Kadang2 para ustadz di Indonesia suka sekali menganggap suatu amalan selama itu baik boleh (bahkan dianjurkan) untuk diamalkan, meskipun jelas tidak pernah dicontohkan oleh Beliau.
      Indonesia……Indonesia……..sukany nyleneh.

  8. Tentang ucapan hari raya Idul Fitri nih tak copas dari almanhaj:

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya tentang ucapan selamat pada hari raya maka beliau menjawab [1] :

    “Ucapan pada hari raya, di mana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah shalat Ied :

    Taqabbalallahu minnaa wa minkum

    “Artinya : Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian”

    Dan ( Ahaalallahu ‘alaika), dan sejenisnya, ini telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat bahwa mereka mengerjakannya. Dan para imam memberi rukhshah untuk melakukannya seperti Imam Ahmad dan selainnya, akan tetapi Imam Ahmad berkata : Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat kepada seorangpun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan selamat bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.[2]

    Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar[3] :

    “Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata :

    “Artinya : Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.

    Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : Taqabbalallahu minnaa wa minka

    Imam Ahmad menyatakan : “Isnad hadits Abu Umamah jayyid (bagus)” [4]

    Adapun ucapan selamat : (Kullu ‘aamin wa antum bikhair) atau yang semisalnya seperti yang banyak dilakukan manusia, maka ini tertolak tidak diterima, bahkan termasuk perkara yang disinggung dalam firman Allah.

    “Artinya : Apakah kalian ingin mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik.?”

    [Disalin dari buku Ahkaamu Al Iidaini Fii Al Sunnah Al Muthahharah, edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah, oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, terbitan Pustaka Al-Haura’, penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Husein]
    _________
    Foote Note
    [1]. Majmu Al-Fatawa 24/253
    [2]. Al Jalal As Suyuthi menyebutkan dalam risalahnya ” Wushul Al Amani bi Ushul At Tahani” beberapa atsar yang berasal lebih darisatu ulama Salaf, di dalamnya ada penyebutan ucapan selamat
    [3]. Fathul Bari 2/446
    [4]. Lihat Al Jauharun Naqi 3/320. Berkata Suyuthi dalam ‘Al-Hawi: (1/81) : Isnadnya hasan

  9. saya ingin meminta maaf juga atas segala kekhilafan dan kekurangan baik secara langsung maupun tidak , karena sesungguhnya Allah SWT selalu punya hadiah untukmu saudaraku: sebuah cahaya untuk setiap kegelapan, sebuah rencana untuk setap hari esok, sebuah jalan keluar untuk setiap permasalahan, sebuah kebahagiaan untuk setiap kesedihan, tetap semangat, mengahadapi hidup, ALLAH SWT akan selalu bersama kita
    Saat Wajah Tak Mampu Bersua & Saat Tangan Tak Mampu Menjabat,
    Saat Lidah Salah Berucap & Bila Langkah Membekas Lara,
    Bila Kata Salah Berucap & Bila Tingkah Menoreh Luka,
    Hari Ini Izinkan Kedua Tangan Bersimpuh…
    Memohon Maaf Atas Segala Salah & Khilafku,
    Semoga Message Ini Mampu Mejembataninya,
    “Taqqobalallahu Minna Waminkum,”
    Minal Aidzin Wal Faidzin,
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H
    wassaalam wr wb

  10. Info yang menarik…..
    Mungkin itu ya, setelah ucapan Minal Aidin wal Faizin…terus ada tambahannya, mohon maaf lahir dan batin.
    Berarti orang Indonesia kreatif???

  11. kata-kata Minal Aidin Wal Faizin sebenarnya adalah kata sambutan bagi pasukan nabi muhammad setelah pulang dan menang dari perang badar.
    dan memang benar kalau kata-kata Minal Aidin Wal Faizin tersebut tidak ada disejarah islam sebagai kata -kata menyambut atau ucapan selamat idul fitri kecuali di indonesia, akan tetapi kita juga harus was-was apabila kita melakukan ibadah tetapi ibadah tersebut tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh nabi Muhammad maka ditakutkan ibadah tersebut jatuhnya menjadi Bid’ah.

  12. Pingback: Brahmasta » Akhir Ramadhan

  13. Waah .. Jadi yang tepat harusnya bilang apa dong? Kalau misalnya diganti, takutnya malah orang-orang gak ngerti dan bingung. Maklum … dah terbiasa walaupun (mungkin) salah.

    Selamat merayakan Idul Fitri mas. Mohon maaf lahir dan batin ..

  14. Saya sering sekali berkata kata yang tidak semuanya indah, kadang saya salah, mungkin riya, mungkin sedikit dusta … dan saya mohon untuk dimaafkan segala kesalahan saya yah :)

    Minal aidin wal faidzin … maafkan saya lahir dan batin karena beginilah kewajiban kita sebagai hamba untuk meminta maaf dan memberi maaf.

    Rindu [a.k.a -Ade-]

  15. Pingback: Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1429 H | Joko Supriyanto Weblog

  16. Yah…

    Itulah typical masyarakat Indonesia… Banyak yang berucap tapi tak tahu makna/artinya…

    Gara2 sistem pendidikan Indonesia yang hanya mengajarkan nilai2 Eksakta tanpa mengajarkan nilai2 moral….

  17. Islam itu bukan Arab !!
    Jadi kita gak mesti ngikutin budaya Arab !!

    Yang mesti kita ikutin, jelas hanya Rasulullah SAW melalui warisan beliau buat kita (Al Qur’an & Sunnah) !!!
    Titik !!!

  18. Selamat hari raya Idul fitri 1429 H.
    MINAL AIDIN WAL FAIZIN : Mohon maaf lahir & Bathin.
    Wassalam:
    Yani bin Muski
    Alamat: Kp.Tajur Rt.29/08
    Desa.Ciracap-Kec.Ciracap-Kab.Sukabumi
    Jawa barat 43176

    Email: yanisunarti@aol.com

  19. Halo,

    Saya rasa mendoakan orang bukanlah bidah, menurut saya Minal Aidzin Wal Fa Idzin nilainya sama dengan kalau kita mendoakan orang lain untuk kebutuhan kebutuhan spesial. Seperti semoga naik kelas, semoga lulus ujian, semoga keterima di universitas negri.

    Sekian dulu.

    “Taqqobalallahu Minna Waminkum,”
    Minal Aidzin Wal Faidzin,
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H

    BB

  20. setidaknya dengan tulisan abang kan kita jadi tau…… tapi ngelurusinnya gimana ya…. emang dah membudaya.

    indonesia….indonesia…….

    ah… minal adin walfaidzin juga deh kalo gitu…… (makananya kan baik)

    :)

  21. benar,
    dalam sebuah riwayat, ALLAHU allamu bishawab,
    yang benar,
    para shahabat ketika dahulu mereka bertemu,
    mereka saling mengucapkan “Taqabballallahu Min A Wa Minkum”
    hanya itu,
    jadi…yach ucapkan itu saja!!

    :)

  22. Pingback: Pataka WebLOG » Blog Archive » Istilah Seputar Lebaran

  23. apapun,,,

    kita negara dengan penduduk muslim terbanyak,,namun sayang arti’y saja ta’kenal,,

    tanya pada diri kita
    sebenarnya ta’ hanya satu kalimat tu saja,,
    namun penerapan syariah islam’y pun dianggap menyeramkan oleh sebagian besar penduduk msulimnya

    sungguh luar biasa,,

  24. Pingback: Herzlich willkommen bei eechzaan’s Blog » Blog Archive » Istilah Seputar Lebaran

  25. Mas Aditcenter, saya punya pendapat. ..

    Jangan menyalahkan nilai2 eksakta untuk sebuah kesalahan typical masyarakat Indonesia.

    Dua-duanya penting, nilai eksak dan nilai moral. Lagi pula nilai2 eksak kita juga masih kurang kok? Sehingga sebagian kita berfikir kurang rasional.

    Ok, salam kenal dan sukses bersama.

  26. Saya tidak sependapat bahwa minal aidin wal faizin tidak ada dalam budaya arab. Pada kenyataannya saya saat ini ada di Mekkah al mukarommah KSA rata-rata orang arab tahu juga pengucapan dan arti minal aidin wal faizin. Walaupun yang lebih banyak di ucapkan adalah ” kullu am enta bi khoir” ( atau pasarannya untuk TKI ” kullu sannah enta toyib ” ).La waktu saya ucapkan ” minal aidin wal faizin ” mereka juga tahu…la wong itu bahasa mereka. Kalau masalah budaya ya jelas beda. Arab negara kaya/petro dollar kalau gaya budaya mereka tidak berlebihan / berlebihan itu karena sistem pemerintahan yang jelas berbeda dengan indonesia. Arab kerajaan, indonesia demokrasi. Untuk perayaan hari raya idhul fitri dengan hari raya idhul ad’ha di Arab saya lihat sama meriahnya…kalau tidak percaya datang saja ke Arab…http://kluwan.wordpress.com

  27. Taqobbalallohu minna wa minkum wa taqobbal yaa kariim,
    Ngaturaken sedaya kalepatan, nyuwun agunging pangaksami
    Mugi kito tansah pinaringan barokah, rahmah lan maghfiroh saking
    ALLOH SWT.

    Ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal fa’izin.
    Sugeng Riadin Idul Fitri 1429 H

  28. Setahu saya, frase Minal aidzin wal faidzin ini memang produk asli orang Indonesia. Sepertinya kurang afdol kalau pas bersalaman tidak mengucapan ungkapan tersebut. Saya khawatir itu bisa jadi suatu hal yang dianggap sebagai bagian dari agama (?). Kalo yang saya tahu, konon Nabi Muhammad hanya mengajarkan ucapan “taqabbalallahu minna wa minkum” ketika bersalam-salaman di hara fitri.
    Wallahu a’lam bish shawwab!

  29. Pingback: Akhir dari Ramadhan « Brahmasta Adipradana

  30. assalamualaikum wr.wb
    dalam hemat saya, rasanya kurang tepat untuk mengatakan bahwa “minal aidin walfaizin” tidak ada dalam budaya Arab, karena telah lama saya dan kawan-kawan bertempat tinggal baik dalam rangka menempuh pendidikan maupun kegiatan lainnya di tanah Arab dan Timur Tengah lainnya, masalah minal aidin walfaizin sama saja penggunaannya sebagaimana layaknya di negara2 yang berpenduduk muslim lainnya, jadi hendaknya dapat melihat lebih dalam dan dan lebih jauh sebelum mengatakan apa itu makna “minal aidin walfaizin” atau untuk lebih jauh lagi anda dapat melakukan croscheck atau sarch saja di Google.com, pasti insyaallah anda akan menemukan jawaban yang lebih lengkap.
    karena itu dapat membuat makna islam menjadi kerdil alias terbonsai.

    ini contoh kecil yang dapat anda lihat.

  31. intinya…minal ‘aidin wal fa idzin yang lebih dimaknai maaf lahir batin sebenarnya gak ada contohnya dari Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Jadi minta maaf bisa kapan aja dan dimana aja.

  32. minal aidin wal faizin gapapa ah… karena maknanya adalah doa…

    klo diikuti mohon maaf lahir batin, ini yang kadang suka disalah artikan, sehingga orang” itu mikirnya mohon maaf lahir dan batin, padahal kan bukan…..

    tapi gw lebih prefer ngmg…

    taqqabalallahu minna wa minkum….

  33. Assalamu’alaikum,…Wr.Wb. Mungkin kata sedikt berubah makna, karena ucapan lisan dan arti yg agak berbeda. Itulah bukti Allah Maha kaya,….Yang lebih penting keikhlasan memaafkan dan meberanian meminta maaf atas segala salah dan khilaf. Semoga Allah selalu menuntun kita ke Jalan yang lurus yang benar yang di Ridhai Allah SWT, Amiin.

  34. Allah maha tahu doa tiap hambanya meskipun bukan bhs arab, apalagi isyarat bg org yg tdk mampu bcr.
    G masalah pake yg mana, ditambahi mhn maaf jg baik krn qt g tau kpn qt bbuat dosa pada org dkt qt. Puasa mhapus dosa qt pd Allah tp dosa sesama manusia dhapus jika ada kata maaf-memaafkan. Jadi sempurna khan? Mhn koreksi.

  35. The article is totally wrong. We have and use “Minal Aidin wal Faizin” in Arabic. It literally means “I hope you always celebrate this happy occassion and you will be from the winners”. “Aidin” is taken from the word Eid and means “Many returns of Eid”

  36. Pingback: Romantic Renaissance » Blog Archive » Glossy Brotherhood

  37. Bagaimana dengan do’a : semoga aja laris dagangan kita [bagi Para pedagang], semoga aja cepet dapat keturunan [tiap ada pengantin baru], dan berbagai versi do’a dengan bahasa bermacam..?
    Kalau do’a mah dalam hati aja, Allah juga mendengarkan..

  38. Dari http://religiusta.multiply.com/

    Manakah diantara kalimat-kalimat di bawah ini yang benar?

    *
    Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir-bathin
    *
    Mohon maaf lahir-bathin, minal ‘aidin wal faizin
    *
    Semoga kita dimaafkan minal ‘aidin wal faizin
    *
    Semoga kita minal ‘aidin wal faizin
    *
    Semua benar.

    Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari ‘aada=kembali), sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata ‘Aidin dan Faizin. Darimana sih mereka?

    ‘Aidin itu isim fa’il (pelaku) dari ‘aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses “pemukulan” (masdar), juga ada “yang memukul” (anda pelakunya). Kalau kamu “pulang” (kata kerja), berarti kamu “yang pulang” (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa’il.

    Kalau si Aidin, darimana? ‘Aidin atau ‘Aidun itu bentuk jamak (plural) dari ‘aid, yang artinya “yang kembali” (isim fa’il. Baca lagi teori di atas). Mungkin maksudnya adalah “kembali kepada fitrah” setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.

    *
    ‘aada = ia telah kembali (fi’il madhi).
    *
    Ya’uudu = ia tengah kembali (fi’il mudhori)
    *
    ‘audat = kembali (kata dasar)
    *
    ‘ud = kembali kau! (fi’il amr/kata perintah)
    *
    ‘aid = ia yang kembali (isim fa’il).

    Kalau si Faizin?

    Si Faizin juga sama. Dia isim fa’il dari faaza (past tense) yang artinya “sang pemenang”. Urutannya seperti ini:

    *
    Faaza = ia [telah] menang (past tense)
    *
    Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)
    *
    Fauzan = menang (kata dasar).
    *
    Fuz = menanglah! (fi’il amr/kata perintah)
    *
    Fa’iz = yang menang.

    ‘Aid (yang kembali) dan Fa’iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi ‘Aidun dan Fa’izun. Karena didahului “Min” huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi “Aidin” dan “Faizin”. Sehingga lengkapnya “Min Al ‘Aidin wa Al Faizin”. Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis dengan “Minal Aidin wal Faizin”.

    Lalu mengapa harus diawali dengan “min”?

    “Min” artinya “dari”. Sebagaimana kita ketahui, kata “min” (dari) biasa digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya ‘dari’ zuhur hingga ashar. Atau ‘dari’ Cengkareng sampe Cimone.

    Selain berarti “dari”, Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari Spanyol, dalam syairnya menjelaskan:

    Ba’id wa bayyin wabtadi fil amkinah # Bi MIN wa qad ta’ti li bad’il azminah

    Artinya: Maknailah dengan “sebagian”, kata penjelas dan permulaan tempat… dengan MIN. Tapi kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu.

    Dari penjelasan Ibnu Malik di atas, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata “sebagian” (lit-tab’idh). Jadi secara harfiyah, minal ‘aidin wal-faizin artinya: BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG. Nah, pusing kan?

    Tunggu dulu. Sabar, napa.

    Kalimat di atas adalah kalimat doa. Baik dalam Al-Quran dan Hadis banyak kalimat-kalimat seperti itu yang menunjukkan doa kepada yang bersangkutan. Kita sering menambahi julukan kepada orang yang sudah wafat dengan tambahan “almarhum” yang artinya “yang dirahmati” (terserah orang tersebut rajin sholat atau gak pernah sama sekali). Sebab, itu hanya doa dan pengharapan “semoga ia dirahmati oleh Allah, diberikan kasih sayang-Nya di alam barzakh hingga hari Kiamat”.

    Akan halnya dengan minal ‘aidin wal-faizin, ini juga doa: “Semoga anda termasuk (bagian dari) orang-orang yang kembali kepada fitrah kesucian dan termasuk (bagian dari) orang-orang yang mendapatkan kemenangan”. Amin.

    Duh indahnya Islam. Sama orang yang nggak puasa saja, sempet-sempetnya kita doain yang bener.

    Kesimpulannya?

    Ya simpulkan saja sendiri. Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan Mohon maaf lahir dan bathin. Menggunakan kalimat a, boleh. Memakai kalimat b, silakan saja. Tapi sekali lagi, mohon maaf lahir bathin itu bukan arti minal aidin. Asal jangan memilih c, karena minal aidin tidak pernah bisa memaafkan orang. Tapi pilihan saya adalah d, ini yang paling shahih.

    Akhirnya, semoga kita minal ‘aidin wal faizin. Amin!

    # Taufik Munir

    • Assaalaamu`alaykum wa rahmatullahi wa barokaatuhu.

      Afwan untuk ukhti Rita untk artikel akhi Taufik Munir, ana ada komentar dengan Makna Almarhum, yang anti artikan sebagai harapan kepada Allah `azza wa jalla agar di rahmati.
      Sya yakin anta tahu makna Al ma`bud, yaitu yang di sembah. Almarhum maka artinya yang dirahmati. Sya meyakini bahwa Allah merahmati orang2 yang Dia kehendaki saja (tidak semua).
      Sya sebutkan contoh yg wujud doa/harapan
      kata jazaakallahu: semoga Allah mmbalasmu. Bagaimana dengan harapan agar di rahmati: cth: Rahimahullah: semoga Allah merohmatinya.
      Perlu di ketahui, sebutan almarhum sekarang bukan hanya untk muslimin, tapi juga yg menyebutkan untuk org yg telah meninngal dari kaum kuffar. Wallahi, Untuk kaum muslimin saja kita tidak tahu siapa saja yang akan dirahmati Allah. Allahu a`lam

  39. Subhanallah, tak terasa sekarang sudah hampir Idul fitri lagi.. mari kita manfaatkan sisa romadhon yang ada untuk maksimal dalam beribadah, semoga kita mendapat kemuliaan lailatul qodr. amin

  40. Kalo ngasih nama berbahasa/bernuansa Arab (padahal ada padanan kata Indonesianya) apa termasuk bid’ah juga ya? atau biar dikira beragama Islam kali ya?

  41. Makin sini dunia ilmu makin terbuka lebar. Bila pada gilirannya setiap kaum muslimin memilki wawasan yg luas, sepertinya pertikaian, saling menyalahkan atau merasa benar sendiri dalam berbagai hal, secara khusus dalam kepahaman (fiqh) atau keyakinan (tauhid) akan makin berkurang. Dalam suatu ta’lim, 10 tahun silam ketika saya membedah ttg ucapan “minal ‘Aa-diin waf faaiziin” (sebagaimana yg dibedah sekarang) pernah diprotes jama’ah dgn alasan jangan mengotak-atik sesutu yg sudah berjalan atau terbiasa, dgn dalil “Laa tufsidu fil ardhi ba’-da ishlaahihaa” maksudnya”Jangan bikin kerusakan di bumi (ini) setelah berjalan baik”. Terima kasih internet untuk perkembangan ilmu yg bermanfaat. Demikian pula kepada saudara-saudariku kaum Muslimin ygmasih punya masa depan, capailah ilmu-ilmu yg bermanfaat (a.l. ilmu keagamaan/Islam) sebelum saatnya renta.

  42. ya, pas sekali untuk Indonesia. orang-orang yang kembali (ke kampung halaman) dari orang-orang yang memenangkan pertarungan hidup mencari nafkah (di perantauan). Seringkali saya menyaksikan betapa gembiranya mereka yang akan mudik, riangnya mereka di tengah kemacetan, dan mereka puas bisa berkumpul dengan keluarga. Semoga kita termasuk ke dalam golongan yang bersyukur.

  43. wah artikelnya bagus tue bang saya jadi tau artinya.
    keren keren poko’e top markotop deh artikelnya.
    klo punya artikel yang bagus share to me ok!!!!!!!

  44. YAAA…………… INSYA ALLOH SEMUA COMENT ITU
    TUJUANNYA BAIIIK, YG LBH BAIK LAGI KITA IKRARKAN KPD ALLOH DAN KITA IKHLASKAN HATI KITA UNTUK MENGAMPUNI ORANG-2 YG PERNAH MENDHOLIMI KITA, GITUU..

  45. inilah indonesia..suka tidak suka. budayanya memnag sangat beragama jadi akulturasi pasti terjadi dan lahirlah budaya baru yang berbeda dari budaya asalnya. yang penting esensinya itu sama dan dapat sepanjang tidak melanggat aturan-aturan baku yang sudah dutetapkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s