Sedekah Maut

21 nyawa melayang karena terinjak-injak. Tragis!

Sedih sekali saya membaca berita di KORAN TEMPO hari ini (16/9). Sebanyak 21 orang tewas terinjak-injak ketika sedang antre pembagian sedekah di depan rumah H Syaikhon di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Pasuruan, Jawa Timur pada hari sebelumnya.

Mereka yang meninggal adalah wanita-wanita tua renta yang mengharapkan sedekah uang sebesar Rp.20.000-Rp.30.000. Duh, Gusti, uang sebesar itu diperebutkan dengan taruhan nyawa. Ini sungguh-sungguh sebuah tragedi di pertengahan bulan puasa. Para wanita miskin itu tentu menganggap uang sejumlah itu sesuatu yang amat berharga. Mereka bahkan datang sehabis sahur. Padahal sedekah dibagi pada pukul 10 pagi ketika panas mentari sudah mulai menyengat.

Tubuh yang tua dan renta, haus dan lapar karena puasa. Massa yang tak terkendali. Panitia yang tidak mau belajar dari kekurangan tahun lalu saat dua orang tewas karena terdesak-desak. Inilah sumber bencana itu. Menyedihkan. Menguras air mata.

Kini, marilah kita belajar dari kesalahan ini. Jika tangan kanan kita memberi, tidak perlulah tangan kiri kita diberitahu. Jika akan memberi, datangilah orang yang membutuhkan, bukan menyuruh mereka datang. Semoga ada pelajaran yang bisa kita ambil.

27 thoughts on “Sedekah Maut

  1. Jika tangan kanan kita memberi, tidak perlulah tangan kiri kita diberitahu. Jika akan memberi, datangilah orang yang membutuhkan, bukan menyuruh mereka datang. Semoga ada pelajaran yang bisa kita ambil.

    sepakat mas…
    tapi ada juga yang ironi, orang lain ngak ada yg bisa membantu yah keluar dari kerumunan orang-orang yang bedesak2an, termasuk wartawan yang ngambil foto itu?

  2. aRuL,

    Kalau saya baca dari cerita wartawan, situasinya benar-benar chaos. Wartawan sudah bantu dengan menahan massa yang mendorong tapi kalau sudah kachow memang susah.

    Bagi saya, terus terang saja, sukar untuk tidak mengatakan bahwa si pemberi ceroboh. Tanpa ada kejadian seperti inipun kita bisa memperkirakan potensi masalah yang timbul.

    Jangan lupa, rencana pemberian zakat / sedekah itu disiarkan di radio. Saat hendak dibagikan, sudah ada ribuan orang yang datang. Mereka harus antri satu-satu menemui si pemberi zakat. Apa tidak kisruh ?

    Sedih sekali memang. Inilah potret kesulitan ekonomi masyarakat kita.

  3. Sebenarnya bagaimana sih aturannya yang bener mengenai pembagian zakat langsung? Kalau menurut saya, cara pembagian zakat yang semacam ini (penerima zakat mendatangi pemberi) menunjukkan kemalasan atawa ketidakniatan orangnya dalam beramal. Enak bener tinggal santai ongkang-ongkang kaki di rumah menebar uang sementara yang membutuhkan malah harus antri berdiri berjam-jam, dijemur pula di saat mereka sedang berpuasa. Keterlaluan…

  4. Saya juga menyayangkan metode pemberian zakat yang dilakukan secara tidak rapi begini. Untuk sebuah acara yang telah berlangsung tahunan, mestinya pelaku bisa belajar dari tahun kemarin, sewa satpam kek, bikin alur antrian kek. Ini malah nggak ada bantuan tenaga keamanan.

    Ada yang namanya lembaga amil (pengelola zakat), serahkan aja kepada amil yang bisa memegang amanat. Kejadian kisruh begini bisa dihindari

  5. Jangan mudah menunjukan jari, mudah mencari kambing hitam dalam peristiwa semacam ini, namun sadarkah kita bahwa fakta yang sesungguhnya tersaji adalah kemiskinan itu pahit dan menyakitkan dan sekarang ia ada banyak disekitar kita. Pertanyaannya adalah apa yang akan kita lakukan?

  6. Saya jg setuju dg paragraf terakhir..
    Oya, saya juga sudah baca di headline-nya salah satu surat kabar di Medan…
    Gambar yg dipajang benar-benar tragis…
    Hampir sama kayak gambar di atas..
    :(

  7. Waktu gue dan kawan2 SMU aja, walau mau menyumbang langsung tetap minta tolong ama LSM dan RT/RW setempat buat membantu menertibkan antrian dan mengorganisasi pembagian agar tidak salah sasaran.. masa haji kalah sama anak-anak SMU sih?

  8. Setuju dengan Mas Puji: zakat itu dibagikan/diantarkan oleh mereka yang terkena kewajiban kepada yang berhak menerima, bukan diminta-minta. Ajaran Islam sangat menekankan pemberian dan melarang sikap meminta-minta kecuali kepada Allah SWT.

    Jika seperti disebutkan Mas Vavai bahwa hal ini melibatkan jumlah besar, sudah sepatutnya ada organisasi yang mengarahkan dan menjalankan layaknya perhelatan besar. Atau, jika tak mau heboh/sulit ya hindari publikasi berlebihan lewat media segala. Apa sih tujuannya?

    Maaf, saya pribadi tak bermaksud menyudutkan pihak ini atau itu, melainkan lebih pada tindakan/peristiwa yang dapat dijadikan pelajaran buat kita semua.

  9. Menyedihkan memang. Ini menggambarkan betapa miskinnya rakyat Indonesia. Mestinya masalah zakat seharusnya Negara yang harus mengelola. Bukan semaunya muzaki. Kalau dikelola oleh negara tidak mungkin akan kejadian seperti itu. Negara bisa mengatur. Ada Badan Amil ZIS, kenapa koq tidak diserahkan ama badan amil ZIS ???
    Ini yang harus dipelajari, jangan2 badan amil ZIS tidak amanah. Para muzaki tidak mempercatainya. Maka H. Syaikhon punya inisatif untuk membagi-bagikan zakatnya sendiri.
    Ternyata kita sedang krisis kepercayaan ???

  10. Segala sesuatu dinilai dari niatnya, saya tidak mau berburuk sangka kepada pihak-pihak yang terkait dengan Kejadian ini, meski banyak teman-teman terkesan memojokan pihak pemberi sedekah. Selain tergantung pada niat, setiap amal juga ada ilmunya. Saya melihat kejadian di Pasuruhan tidak layak disebut Zakat. Itu lebih layak disebut sedekah.

    Coba kita lihat kejadian ini secara lebih fair, dari sisi pemberi sedekah jelas bahwa cara seperti ini memang kurang elok dan sangat beresiko. Masih ada cara lain yang lebih elegant, lebih syar’i dan lebih aman. Semisal dengan membentuk team dan membagikannya pada para dzuafa yang berhak menerima atau menyerahkannya pada amil (institusi) zakat resmi.
    Selanjutnya dari sisi penerima zakat … tanpa bermaksud mengajak untuk bersikap sok gengsi mari kita coba fahami filosofi “tangan di atas lebih mulia dari pada tangan di bawah”. Objektif saja, dari sekian banyak pengantri zakat di Pasuruhan bila dilihat secara fisik tidak menunjukkan ciri seorang miskin dan papa. Banyak di antara para pengantri yang sebenernya mampu tapi tetap mengantri juga dengan alasan mumpung ada yang bagi2 rejeki gratisan. Dan orang2 seperti inilah yang sebenarnya patut diberikan pembinaan lebih lanjut

  11. kenapa sih tidak menyalurkan zakat melalui lembaga yang sdh ada??? apa mau berbangga2 dengan memberikan zakat puluhan juta sehingga bisa diketahui orang banyak bahkan mell media masa…fatal akibatnya…
    padahal yg dibagikan cuma 20 rebu??? huh buat ongkos si penerima zakat aja mgkn sdh tidak mencukupi…apalagi harus berpanas2an, berdesak2an, truss mengorbankan nyawa..

    woiii para pemimpi eh pemimpin negara ngaca dunk! ini potret rakyat saat ini!!! jangan sibuk ngabisin duit buat pasang iklan di TV buat kampanye…hiks menyedihkan

  12. Aku nggak sukanya dari berita ini adalah para wartawan-wartawan itu. Mereka itu kan katanya “pekerja kemanusiaan” kok bisanya cuman meliput aja sih…kenapa mereka pada saat kejadian tidak mencoba menolong. Malahan mengeksploitasi untuk dijadikan sumber berita…

    Tolong jangan hanya kejar berita. Try to help first, then share the story. Itulah yang dinamakan pekerja kemanusiaan.

  13. sebagai individu, kejadian ini sampai sekarang masih buat saya merinding dan merasa bersalah karena selama ini kurang bijaksana dalam mengeluarkan uang. mudah2an kita semua bisa belajar untuk tidak terus terongrong oleh keinginan untuk memiliki semua barang indah atau berada di tempat mewah karena sedikit saja setiap orang dibumi mau peduli untuk memberi mungkin kemiskinan tak akan begini menyedihkan

  14. iya menyedihkan sekali ya… pahal kalau diantar ke masing2 yg memerlukan akan lebih indah cara berbaginya. tidak seperti ini,orang mempertahankan nyawanya dengan susah payah, harus melayang nyawanya dengan cara yang menyedihkan. Untuk para orang kaya, mohon buatlah cara yang lebih baik dalam membagikan hartanya….ya..

  15. klo memang berniat sedekah…..datanglah kepada yang membutuhkan tanpa harus memberitahukan kepada orang lain……..sedekah yang diberikan dengan cucuran air keringat insya allah akan mendapatkan Ridho dari ALLAH SWT……..sedakah tanpa mengharapkan imblan ataupun terkenal dimata orang….itulah yg oke……setuju g…..

  16. InsyaAllah mulai sekarang kita akan bersedekah 20 % dari gaji kita, setuju??? Kekuatan sedekah memang tergantung kekuatan iman, karena harus yakin dengan Janji Allah SWT.
    Kalau kita ingin merubah takdir kita, ingin rejeki tambah berkah, ingin sembuh dari penyakit, ingin keluarga rukun dan ingin yang baik-baik ya harus sedekah………..sedekah………sedekah

  17. Orang miskin juga punya harga diri.Jangan biarkan mereka mendatangi kita untuk meminta sedekah tetapi kitalah yang datang kepada mereka kalau bisa secara sembunyi sembunyi seperti yang dilakukan para pendahulu kita yang saleh.Kalau sudah banyak korban kayak gitu apa wak haji yang bagi sadakah mau bertanggung jawab di hadapan Allah? pakailah cara yang benar dal;am segala tindakan kita agar kita tehindar dari Riya dan hal lain yang membahayakan orang lain.
    .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s