Artalyta Suryani Cuma Dihukum Lima Tahun?

Ah, terlalu ringan nih bagi seorang ratu suap sekaliber Ayin

artalyta ratu suapArtaylta Suryani atau Ayin si ratu suap cuma dituntut lima tahun penjara ditambah denda Rp250 juta atas kesalahannya menyuap jaksa katro Urip Tri Gunawan sebesar Rp.6milyar. Si ratu suap ini dicokok oleh KPK di rumahnya di Kebayoran Baru. Uang Rp6 milyar itu dikatakannya dipinjamkan kepada Urip untuk berbisnis, sebuah alibi yang ngawur karena argumentasi ini berubah-ubah: bisnis permata, bisnis perbengkelan dan entah apa alibi berikutnya.

Terbongkarnya percakapan antara Artalyta dengan petinggi Kejaksaan Agung sebenarnya cukup menjadi bukti betapa canggihnya diplomasi Artalyta. Si ratu suap ini adalah seorang negosiator yang ulung. Dia pandai berdiplomasi dan pintar berkomunikasi. Untunglah KPK menangkapnya. Jika saja Artalyta tidak tertangkap, entah bagaimana hancurnya Kejaksaan Agung digerogoti oleh tikus-tikus seperti Urip Tri Gunawan ini.

Sebaiknya Artalyta dihukum seumur hidup saja, ya….

Untuk menyegarkan ingatan, saya copy-paste transkrip percakapan Artalyta dengan petinggi Kejaksaan Agung. Transkrip ini dikopi dari Milis Jurnalisme.

***

Kisah ini diawali ketika Kejaksaan Agung mengumumkan penghentian penyelidikan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang menyangkut Sjamsul Nursalim pada 27 Februari 2008.

Sore harinya, Jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta berkomunikasi lewat telepon. Beginilah petikan percakapan mereka. Artalyta (A), Urip (U).

A: Halo? Sudah beres?
U: Sip. Sudah beres. Pokoknya nggak ada macam-macam.
A: Pokoknya ini Minggu (2 Maret 2008), aku sudah ada. Aku sudah siap. (uang US$ 660 ribu).
U: Garuk-garuk ya? Aku kan garuk-garuk tangan ini.
A: Garuk-garuk tangan?
U: Ngerti toh?
A: Oh iya..
U: Pokoknya tenang aja, aman sekali pokoknya.
A: Ya udah ini jangan terlalu lama, barang itu di rumahku kelamaan, di brankasku.
U: Aku kan juga mengamankan dokumen-dokumen itu semua nanti ya itu kan. Yang ex-ex kemarin itu harus tak amankan semua. Jangan sampai muncul ke mana-mana. Tapi sesuai aku bilang kemaren nggak ini.
A: Yang bilang kemarin berapa? Kan enam.
U: Belum bonusnya ya? Aku garuk-garuk kepala itu?
A: Aku udah komit, aku udah putus bicara itu sama ibu.
U: Gitu ya…tambahi dikitlah…

Pada 2 Maret 2008, dua hari setelah Kejagung menghentikan penyelidikan kasus BLBI, keduanya kembali bercakap-cakap. Urip menanyakan alamat tempat pengambilan uang kepada Artalyta.

U: Jalan apa?
A: Terusan Hang Lekir. Kawasan Simprug WG9. WG nomor sembilan. Rumahnya itu di huk, yang gede tinggi itu.

U: Nomor mobil DK 1832. Halo ibu, saya sudah di depan rumah ini.
A: Ooo … klakson aja klakson.

Setelah itu, aparat Komisi Pemberantasan Korupsi meringkus jaksa Urip.

***

Selain dengan jaksa Urip, Artalyta berhubungan dengan Kemas Yahya Rahman (saat itu Jaksa Agung Muda Pidana Khusus) pada 29 Februari 2008. Beginilah petikan percakapan antara Artalyta (A) dan Kemas (K):

A: Halo.
K: Halo.
A: Ya, siap.
K: Sudah dengar pernyataan saya? Hehehe.
A: Good, very good.
K: Jadi tugas saya sudah selesai.
A: Siap, tinggal…
K: Sudah jelas itu gamblang. Tidak ada permasalahan lagi.
A: Bagus itu.
K: Tapi saya dicaci maki. Sudah baca Rakyat Merdeka?
A: Aaah … Rakyat Merdeka nggak usah dibaca.
K: Bukan, saya mau dicopot hahaha. Jadi gitu ya…
A: Sama ini mas, saya mau informasikan.
K: Yang mana?
A: Masalah si Joker.
K: Ooooo nanti, nanti, nanti.
A: Nggak, itu kan saya perlu jelasin, Bang.
K: Nanti, nanti, tenang saja.
A: Selasa saya ke situ ya…
K: Nggak usah, gampang itu, nanti, nanti. Saya sudah bicarakan dan sudah pesan dari sana. Kita….
A: Iya sudah.
K: Sudah sampai itu.
A: Tapi begini, Bang…
K: Jadi begini, ini sudah telanjur kita umumkan. Ada alasan lain, nanti dalam perencanaan …

***

Nah, di bawah ini petikan rekaman percakapan via telepon antara Artalyta alias Ayin dan Untung Udji Santoso (Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara). Percakapan terjadi beberapa jam setelah jaksa Urip Tri Gunawan tertangkap pada 2 Maret 2008. Begini petikan wawancara antara Untung (U) dan Ayin (A).

U: Memang dikasih berapa duit?
A: 660 ribu dolar.
U: 4 M.
A: 6 M.
U: Lailahailallah!
A: Jadi bagaimana ini menyelamatkan itu semua, orang-orang kita?
U: Nggak iso ngelak kalau 6 M. Gila.
A: Jadi gimana?
U: Tak pikir enam atus juto gitu.
A: Nggak, itu banyak. Gimana?
U: Itu untuk siapa?
A: Ah, ya udahlah. Sekarang kita jalan keluarnya gimana?
U: Aduh biyung gimana?
A: Heh.
U: Sik…sik… Kalau kayak gitu, susah itu.
A: Aku kena loh, Mas kayak gini.
U: Lah iya.
A: Aku bilang kan ajudanku.
U: Ajudan kok duite samono gede ne. Soko ngendi? Ngarang ae. Yo wes. Gimana caranya hubungi Antasari.
A: Ya, coba sampeyan telepon dulu.
U: Udah, mati teleponnya.
A: Mati? Dicari. Suruh nyari dong. Feri (Direktur Penuntutan KPK Feri Wibisono) suruh nyari.
U: Feri juga nggak ngangkat.
A: Jadi gimana? Ini kan mesti ngamanin bos kita semua.
U: (terdiam lama).
A: Aku jawabnya apa ya? Sekarang anakku kan masuk lewat belakang. Dia pegang juga. Dia masuk (tiba-tiba terinterupsi, Artalyta seperti menyuruh seseorang di rumahnya melakukan sesuatu).
U: Usahakan cepat you keluar. Nyari Antasari deh.
A: Ya, di mana dia rumahnya?
U: Di anu, di BSD. Waduh, tapi saya tidak tahu juga rumahnya. Tapi jangan, jangan ke rumahnya. Ketemu di mana, di hotel atau di mana gitu deh.
A: Ya, aku kan udah mau dibawa. Sampeyanlah yang kejar, yang nyari dia, Mas. Kan nggak kentara kalau sampeyan.
U: Ya, iya. Tapi teleponnya aku nggak ngerti rumahnya (suara Untung terdengar gelagapan). Teleponnya nggak diangkat, aku sudah minta Wisnu (Jaksa Agung Munda Intelijen Wisnu Subroto).
A: Sekarang susulin.
U: Tak telepon dulu.
A: Sekarang sampeyan susulin, gerilya sama Wisnu.
U: Aku udah telpon Wisnu, demi Allah ini.
A: Kata Wisnu apa?
U: Aku sudah dibuka teleponnya. Aku juga nggak buka. Kamu punya nomor lainnya nggak? Nggak punya, lah gimana? (Untung menirukan perkataan Wisnu padanya ke Artalyta).
A: Sekarang aku kan mau dibawa. Supaya keterangannya sama gimana? Nanti kan kena gimana? Kan jangan sampai kena semua.
U: Kenapa sih kok bingung gini? Aduh, gawean ae.
A: Makane. Makanya, aku dari luar Jakarta, dia (Jaksa Urip) maksa (ambil uang US$ 660 ribu) hari ini.
U: Uhhh, kacau kabeh. (menghela nafas). Saya kira you di rumah saja. Nanti you ditangkep kejaksaan.
A: Hah?
U: Ditangkep oleh jekso. Mau diskenariokan gitu loh…
A: Hah? Kenapa-kenapa Mas?
U: Mau diskenariokan begitu. Namun, neng endi iki?
A: Nggak, udah aman. Ini nomor lain. Aku di dalem rumah.
U: Nanti biar saja, kamu nanti yang ngambil kejaksaan.
A: Ho..oh
U: Si Urip (Jaksa Urip Tri Gunawan) dicekal KPK. Awakmu di kejaksaan. Loh ini kok sudah penyelesaian begini. Kok ada uang begini. Maksudnya apa begini loh kenapa-kenapa?
A: Kan saya bilang, saya tidak ada keterkaitannya juga dengan BLBI dan saya nggak ada….
U: Jangan ngomong begitu. Nggak ada keterkaitannya. Biar saya saja yang mancing. Bilang saja ada hubungan dagang sama dia. Terserahlah.
A: Lalu bilang apa?

23 thoughts on “Artalyta Suryani Cuma Dihukum Lima Tahun?

  1. justru karena dia pintar berkomunikasi dan berdiplomasi, makanya cuma dituntut 5 tahun…lha yg ngasih tuntutan itu siapa? Jaksa juga kan?…no wonder sih kalo menurut saya….

  2. Muak banget melihat si Urip berlagak pilon dengan bilang nggak tahu atau lupa kalau ditanya hakim. Terus si Untung juga sok suci, padahal rekamannya sudah jelas banget kalo dia segala mau pura-pura nangkep si Ayin apalagi Kemas, cengengesan begitu.

    Mereka itu para jaksa agung muda, tapi agung dari mana ??

  3. Sudah tertebak kalau ndak akan lama.
    Lima tahun itu kan tuntutan, paling hukum jadinya ndak sampe empat tahun trus kepotong remisi demi remisi.. abis Pemilu bebas! Hehehe…

  4. mana ada kasus korupsi di indonesia yg hukumannya berat, mas. lagian juga kalo bener dihukum, si terpidana ga pernah ada di sel, kecuali wartawan mau dateng…dulu si gelael tiap hari tidur di rumahnya (kata warung langganan deket kantor yg rumahnya persis di belakang gelael)

  5. saya jg baca berita, kok cuma 5 taun ya, trus dendanya cuma 250jt lagi..ckckck….belum lagi nanti 5 taun dpt remisi…aahhh makin bobrok aja hukum di indonesia ini

  6. senyumnya artalyta itu lho… tersembunyi sesuatu yang besar suap yang lebih besar lagi dan kayaknya sih melibatkan orang lebih tinggi lagi.

  7. G orang lampung. Dan seperti orang lampung yg lain, semua tau siapa itu Ayin. Orang kaya baru, kaya banget lah istilahnya. Mobil dari S-class, Hummer, Ferari, Rolls Royce Phantom, semua ada. Kemana-mana aja dikawal polisi/tentara, persis kayak pejabat. Masyarakat, or maybe just me, wondering, kaya dari mana? Soalnya kerja-nya saja nga jelas. Issue-nya sih, duit-nya, semuanya dari bos BDNI itu lho. Dan ini terbukti. 5 tahun utk menggelapkan triliunan, damn, low risk, high return! Wkt pesta anaknya, RI1, RI2, separuh DPR, pada hadir, makanya kalo skrg g baca berita pada menyangkal nga kenal, g sih geleng2 kepala aja. Herannya, nga ada koran yg ngungkit-ungkit ini. Gone with the winds, and people just suck it up.

  8. koruptor-koruptor memang masih bisa menskenariokan dirinya mau seperti apa, kalo ketahuan ya tinggal bikin skenario yang baru, dll.
    mungkin ada baiknya media massa menelanjangi kehidupan mereka, keluarga mereka daripada hanya menelanjangi kehidupan artis-artis.
    aku sendiri kurang suka pemberitaan yanng seperti itu tetapi saya pikir itu suatu cara untuk mempersilahkan mereka becermin, keluarganya, semua orang bisa melihatnya, berasumsi dan menghukumnya secara sosial.

  9. si ayin kayak seneng aja,
    coba aja setiap tampil di tv,
    nggak ada tuh wajah sedih, apalagi suram,

    seneng tambah terkenal.
    hidup ayin.
    hidup si urip.
    terusin ya, jangan ragu lagi…

  10. Ampun daaaahhhhhhh !!!! Mafia dimana-mana…… Susah dipikir pake akal sehat….. Hanya dg bantuan Tuhan untuk bisa membongkar “God Father” nya. Semoga masih banyak org2 yg bermoral…. Amin

  11. Holy shit.. God damn u Jaksa !!!!

    Ancur dah Indonesiaku !!!!!!!!!!

    Brb kaboorrr pindah ke Luar Negeri ah…….

  12. Sudah pantas koruptor2 sekarang dihukum mati, sebab dalam kondisi keadaan negara carut marut begini mereka tak ubahnya seorang penghianat negara. Coba bayangkan aja lihat sisi lain keadaan rakyat kecil… karna ulah mereka

  13. Jaksa di Indonesia emang ga ada yang bener…gua sendiri mengalaminya.Waktu itu aku terkena kasus, setelah berhasi lolos dari polisi saya terang-terangan diminta menyerahkan uang untuk kelancaran kasus. tetapi aku bersikeras tidak mau menyerahkannya dengan resiko mendapat hukuman yang berat. Sukur sekarang sudah bisa baca blog lagi dan tidak ada yang menerima uang dari gua sepeser pun. Mereka memang ga ada yang tahan kalau melihat kilauan rupiah, begitu ada sasaran sedikit mereka langsung ngences kayak piaraanku di rumah kalo ngeliat makanan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s