Yang Muda tak Kenal, Yang Tua Sebal

“Kaum muda tak mengenal, kaum tua yang kenal pun sebal pada Harmoko”

Kutipan di atas adalah komentar Muhammad Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer, sebuah lembaga survey, kepada KORAN TEMPO (20/4) di Jakarta menanggapi kemunculan (kembali) Harmoko di panggung politik. Mantan Menteri Penerangan dari zaman orde baru itu, menurut berita itu, mendeklarasikan sebuah partai baru bernama Partai Kerakyatan Nasional.

Ketika kecil dahulu saya tidak menyukai Harmoko lebih karena dia terlalu banyak omong. Karena masih kecil, saya tidak tahu apakah omongannya itu isi atau kosong. Dulu, ketika pilihan saluran televisi tidak sebanyak sekarang, kalau pada siang harinya ada sidang kabinet, maka malam hari adalah waktu yang paling menyebalkan untuk duduk di depan televisi usai acara Dunia Dalam Berita. Ada acara yang mendadak tayang usai berita yaitu konferensi pers hasil sidang ekuin. Apa itu ekuin? Halah, apa peduli saya dengan singkatan-singkatan jaman order baru ketika itu?

Celakanya, ya ini celakanya bagi anak sekecil saya yang tidak suka ngomongin ekonomi makro, konferensi pers itu tidak ketahuan kapan akan berhenti. Bisa hanya satu jam, bisa pula lebih dari dua jam. Lho, kok bisa? Ya, bisa saja karena pelaku utama laporan dari sidang kabinet itu adalah Harmoko, sang menteri penguasa media massa. Acara itu pun amat sangat miskin gambar. Selama acara itu berlangsung hanya ada wajah pak menteri yang nyerocos membacakan angka-angka produksi beras, angka inflasi, produksi pupuk dan seterusnya dan seterusnya. Menjengkelkan sekali!

Acara ini tiap bulan ada, teratur mengunjungi penonton tv plat merah atawa TVRI. Adakah televisi swasta pun menayangkan acara ini juga? Saya tidak tahu karena di kampung saya dulu tidak ada tv swasta yang bisa ditangkap siarannya. Saya pun akhirnya jadi paham bahwa keesokan harinya koran yang ada di depan pintu pun isinya sama plek dengan yang diucapkan Harmoko sesuai petunjuk bapak presiden di televisi.

Makanya, usai Dunia Dalam Berita saya lebih baik tidur jika ternyata ada siarannya Bung Harmoko. Lebih celaka lagi JIKA dalam tidur itu saya mimpi Bung Harmoko sedang melakukan konferensi pers. Ini namanya celaka tiga belas! Ampuuuuun, deh!

Foto: Wikipedia

21 thoughts on “Yang Muda tak Kenal, Yang Tua Sebal

  1. Lebih celaka lagi jika dalam tidur itu saya mimpi Bung Harmoko sedang melakukan konferensi pers.

    Gubrak, kalo ini kejadian berarti bener-bener kesengsem sama pak Hari-Hari…

    Saya jadi ingat, dulu dengan lugunya saya mengikuti harga cabe dan bawang merah :-D

  2. wah nostalgia lagi.. :)
    jaman dulu namanya TVRI kan untuk jam tayang terkenal jam karet tuh.. :P
    kadang di kasih 1 jam, siaran langsung pejabat2 bisa molor sampe 2 jam bahkan lebih, hehehehe.

  3. cilakanya skrg om puji kerja di tempat yg dulu mungkin sering ditilpun ybs…

    benar-benar kisah cinta yg mengharukan…

    *cegat taksi*

  4. Mas, kalo mimpi seorang petinggi itu kan biasanya alamat dapet sesuatu yang bagus. Ntah itu rejeki dapat hadiah, naik jabatan dll. Jadi semestinya ndak usah takut kalo mimpi Bp Harmoko pada saat itu, kekekek

  5. Mas, biasanya kan kalo mimpi seorang petinggi itu artinya bagus. Ntah mau dapet rejeki nomplok, naik jabatan atau kebahagiaan dan sebangsanya. Jadi saat itu kalo bermimpi tt Dia ndak usah ditakuti tetapi disyukuri sebagai alamat kebahagiaan.

  6. ini orang…..arghhhhhhhhhhhhhhh…..

    si njak njuk njak njuk. dikit2 minta petunjuk. sebel banget. gak malu ya, puluhan taun ngilang, tau2 mencungul lagi?

  7. dari dulu saya ingin tau, nama panjang Harmoko itu siapa sih?

    soale pas ngapalin Kabinet Pembangunan IV jaman SD itu, yg paling diinget ya Harmoko, soalnya cuma dia yg nggak punya nama panjang.

  8. duh jaman kapan ya itu.. saya masih terlalu kecil untuk tau kayaknya
    tapi kayaknya klo lagi ada sidang gitu.. semua TIVI swasta ngikut ke TVRI deh.. siyall

  9. #15 – mr.bambang
    saya baca PK hanya dan hanya jika lagi butuh cari sesuatu di halaman iklan mereka. tapi, setelah baca, siapkan tissue atau lap. tangan anda pasti belepotan dengan tinta dari koran itu.

  10. Pers Sangat sangat dan sangat melindungi si Hari Hari Omong Kosong, Solidaritas Pers yang cukup tinggi mengakibatkan Harmoko hidup tenang tanpa pernah diganggu. Padahal semua tahu bahwa Beliaulah orang yang berada dibelakang kehancuran Bangsa ini. Hanya Allah yang akan membalas Mu hai Hari2 Omong Kosong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s