Lupakan F1tna, Lupakan Geert Wilders

Semakin dilarang, semakin menyebarlah dia. Ayo lupakan Fitna.

geert ngupil pake bolpen

Updaya pemerintah memblokir situs YouTube yang menayangkan film Fitna racikan Geert Wilders nampaknya tidak akan efektif. Jika YouTube diblokir hanya gara-gara secuil film yang tidak bermutu itu, seluruh pengguna layanan video dari Google ini akan kelimpungan. Nampaknya pemerintah belum menyadari dengan benar-benar bahwa peredaran sebuah barang digital di dunia maya nyaris tidak dapat diblokir.

Katakanlah YouTube bisa diblokir 100% oleh pemerintah Indonesia, tapi tahukah menteri kita bahwa masih ada belasan penyedia layanan sharing video lain yang siap menampung Fitna untuk ditayangkan menggunakan server mereka. Apakah seandainya ternyata film Fitna itu sudah menyebar ke server yang lain kemudian semua penyedia layanan itu juga harus diblokir juga? Apakah pemerintah mempunyai tenaga untuk memblokir semua video sharing community itu setiap hari jika mereka tidak menghapus film Fitna? Saya berani bertaruh bahwa pemerintah Indonesia tidak akan mampu melakukannya.

Usaha mencegah penyebaran film Fitna dengan cara memblokir tidak akan berhasil. Justru energi kita yang akan habis terbuang percuma jika kita terus memaksakan diri untuk memblokir server ini dan itu, memblokir domain ini dan itu. Sementara itu, semakin dilarang sebuah file digital menyebar, justru semakin luas dia akan mewabah. Jika ada pelarangan dari pemerintah, orang juga akan semakin penasaran untuk mencari file itu, menontonnya, dan (secara sembunyi-sembunyi) menyebarkannya kepada orang lain. Siapa yang untung dari aktivitas ini? Yang beruntung hanya satu orang: si gila Geert Wilders.

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah jika ada video yang melanggar unsur SARA seperti film besutan orang Belanda itu?

Menurut saya, di jaman digital seperti ini, pemerintah hanya perlu menyatakan bahwa Fitna adalah film yang menyinggung SARA dan mengumumkan kepada khalayak luas bahwa pemerintah Indonesia tersinggung dengan keberadaan film itu. Lalu pemerintah harus mengumumkan kepada masyarakat di Indonesia tentang isi Fitna yang melanggar norma SARA itu secara detail sehingga masyarakat tidak dibuat penasaran. Dengan demikian rakyat tidak berusaha mencarinya dengan sembunyi-sembunyi yang ujung-ujungnya justru akan menghabiskan energi. Tidak perlu ada pemblokiran, tidak perlu ada pelarangan. Bukankah negara kita adalah negara demokratis dan internet adalah salah satu medium yang paling demokratis tempat semua orang mempunyai hak yang sama untuk mengeluarkan pendapat yang bertanggung jawab?

Kapan rakyat ini bisa secara dewasa menerima perbedaan pendapat jika hanya karena satu film sejenis Fitna yang tidak bermutu itu pemerintah kemudian harus memblokir sebuah situs yang mempunyai isi lain yang lebih buanyak dan jauh lebih bermanfaat.

Ayolah, lupakan Fitna. Semakin banyak energi yang dicurahkan untuk memblokir secuil film ini di jagad maya yang tak berujung ini, semakin senang Geert Wilders. Semakin besar kemarahan kita melihat keberadaan film sepanjang 17 menit ini, semakin sukseslah usaha Wilders untuk mempromosikan kebenciannya. Lupakan Fitna, lupakan Wilders. Mari kita ngeblog saja.

15 thoughts on “Lupakan F1tna, Lupakan Geert Wilders

  1. Betul sekali … lupakan Fitna, lupakan Gert Wilders!

    Sangat bodoh sekali kalau kita membuang waktu dan tenaga untuk membantu dia menjadi semakin populer!

  2. Tulisan anda benar-benar tepat sasaran. Saya sangat setuju!

    Apa gunanya blokir? Yang terjadi hanyalah orang yang tadinya tidak perduli menjadi penasaran.

  3. Tulisannya pas, right on target nih… :)

    Kalau dihadapkanp ada pertanyaan, “kenapa video tersebut tidak pantas dilihat?”, sepertinya lebih bijak kalau alasannya adalah memang bahwa video itu tidak perlu dilihat. BUKAN karena diblokir supaya tidak bisa dilihat.

    Menurut saya, pemerintah juga harusnya mulai untuk ‘percaya’ kepada masyarakatnya. Saya mempunyai keyakinan bahwa masyarakat tidak bodoh. Masyarakat (khususnya pengguna internet), masih lebih banyak yang dapat memilah sendiri.

    Yang saya takutnya adalah generalisasi bahwa layanan video sharing itu semata-mata hanya memiliki konten negatif…

  4. Pingback: JalanSutera: Ayolah, Lupakan Fitna « Tukang Ketik 2.0

  5. betul. sesuai dengan “law of attraction”, makin kita fokuskan energi dan pikiran kita kesitu, malah makin cepet filmnya kesebar luas.

  6. yach selalu seperti ini. .. selalu memakan umpan yagn diberikan . .
    *jadi ingat kasus pilem my hope indonesia

    btw.. saya blom nonton pilem pitna.. :D

  7. Pingback: Film “Fitna” Buatan Indonesia « Satori

  8. Daripada Nonton Film Fitna mendingan nonton Film “Kabayan Anak Jin” we Lah…Apalagi Film “Kabayan Saba Kota” lebih ToBB MarKotOBBB and ManTaBBB…………Sanes Kitu Teung…eh Iteung!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s