Celana Bergembok

Jangan cuma milik wanita yang digembok, dong

Saya ngakak membaca berita di Banjarmasin Post mengenai rencana pemda Batu (Jatim) untuk memberlakukan peraturan yang lucu. Peraturan apa itu? Nah, ini dia. Ceritanya, untuk mengantisipasi maraknya praktik esek-esek di panti pijat di Kota Batu, Pemkot setempat baru-baru ini menerapkan aturan baru. Para pramupijat diwajibkan memakai gembok dengan mengunci rok dan celana dalam yang dipakai sehingga para pelanggan tidak mudah membuka celana dalam pemijat.

Di luar negeri celana bergembok seperti itu disebut chasity belt chastity belt atau chasity cage chastity cage. Tapi, berbeda dengan yang saya temukan di Wikipedia, celana bergembok di Batu itu dipakai oleh pemijat bergender wanita. Keterangan di Wikipedia yang saya lihat sekilas justru menyebutkan bahwa chasity belt ini dipakai oleh kaum Adam. Caranya nggemboknya bagaimana? Dari gambarnya sih diilustrasikan, maaf, batang kemaluan pria itu “dikrangkeng” sedemikian rupa sehingga tidak bisa melakukan sexual intercourse. Maaf, saya tidak menyediakan link ke halaman mana pun yang menampung gambar celana bergembok itu karena takut ancaman UU ITE. Hukumannya berat, dendanya mahal, dab! Hehehehe…

Saya bertanya-tanya, apakah rencana pemberlakuan peraturan kewajiban menggunakan celana bergembok untuk wanita pemijat itu akan efektif menurunkan tingkat prostitusi? Kalau menurut saya sih tidak akan berpengaruh sama sekali. Seperti kita ketahui kegiatan prostitusi merupakan kemauan dua belah pihak: pria dan wanita. Kalau hanya milik sang wanita saja yang dikerangkeng, maka si pria pasti akan mencari barang lain yang tidak dikerangkeng, khan? Masa pemkot Batu tidak tahu kelakuan pria yang berkepala batu? Jangan-jangan karena peraturan ini prostitusi justru akan sulit diberantas karena para pria mencari wanita tak berkerangkeng yang ada di luar area lokalisasi. Betul, khan?

Bagaimana kalau celana bergembok ini wajib dipakai oleh semua pramupijat wanita dan juga semua tamu lelaki yang masuk ke area panti pijat di Batu? Nah, cara ini pasti lebih manjur karena dua-duanya dikerangkeng. Pertanyaannya sekarang, apakah para pria (termasuk anggota satpol PP, tukang ojek, preman, ketua RT, pak Lurah, mahasiswa) di Batu mau anunya dikerangkeng ketika memasuki lokasi panti pijat? Hehehehe…. Pasti ogah, khan?

Ada-ada saja nih pemda Batu…

13 thoughts on “Celana Bergembok

  1. Kalau baca beritanya di detiksurabaya dot com, sudah diberlakukan loh. Minimal di salah satu panti pijat. Malah ada fotonya :)

    Memang lucu kok, lucu sekali, sampai hampir terjungkal dari kursi karena ketawa ngakak.

    Gembok ini tidak efektif karena pria-pria nakal itu masih bisa minta “service” lain (pakai tangan kek, pakai mulut, dsb.).

    Yang lebih efektif, pasang aja CCTV di tiap kamar, lalu tulisan “Untuk alasan keamanan, ruangan ini dimonitor melalui video CCTV”.

    Pasti gak akan ada yang berani :)

    Tapi ya kalau namanya orang niat mesum, pasti aja ada akalnya –> “Bisa service di luar jam kerja gak? Mampir dong ke kamar hotel saya”

  2. Ngahahahahaha……klo yg digembok si cewek ya gak ada gunanya….selama ini kan alat sexual intercourse cewek gak cuma yg di*maaf*selangkangan aja…..

    Kalo bener2 dibuat peraturannya, bisa dipastikan membuat lonjakan angka pelaku seks menyimpang deh :D

  3. xixixi lucu juga ya peraturan gituan, secara sekarang sudah teklonologi tinggi :)
    eniwe la cangkeme kok ndak digembok sekalian, kan masih bisa buat anu, lawong anunya cowok ndak digembok :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s