Pengucapan

Cerita tentang pe, ep, f, dan v

Ini cerita tentang pembangunan halte di sebuah tempat di Jakarta. Letak halte itu ada di dekat sebuah jalan layang. Makanya, banyak orang yang menyebutnya sebagai HALTE FLYOVER. Dari nenek-nenek penjual gorengan sampai anak-anak sekolah di seputarnya paham benar nama halte itu.

Nah, suatu saat halte itu perlu direnovasi supaya lebih beradab. Tempat duduk yang dulunya dari besi diubah. Besi diganti dengan keramik warna kecoklatan, licin, nyaman untuk diduduki sambil menunggu bus lewat. Atap yang sudah bocor di sana-sini diganti dengan yang lebih kokoh. Pun nama papan nama haltenya juga diganti dengan yang baru.

Ternyata pemenang tender renovasi halte itu adalah seorang kontraktor yang berasal dari Bandung. Dia asli Bandung 100% meski sudah puluhan tahun merantau di Jakarta. Dia ingat benar dengan nama haltenya: HALTE FLYOVER. Tapi, Anda tahu sendiri khan bagaimana kontraktor kita yang Sunda itu mengucapkannya? Yups, maka ketika diperintahkannya bagian design membuat papan nama halte, maka jadinya adalah seperti pada foto di bawah ini.

Protes pun bermunculan. Banyak orang yang ngomel bahwa kontraktornya tidak bisa menggunakan bahasa Inggris dengan benar. “Masa menulis FLYOVER saja tidak becus. Bukan PLY OVER. Bukan pake huruf “pe”, tapi pake huruf “ef”,” kata seorang mahasiswa sambil cemberut.

Protes itu ternyata didengar oleh sang kontraktor. Dia mengingat-ingat kata-kata sang mahasiswa “bukan pake pe, tapi pake ep” Serta merta dia menelpon ke kantornya. Diperintahkannya desainer grafis untuk mengubah papan nama halte itu sesegera mungkin. “Bagaimana sih kamu ini, masa nulis nama halte itu saja salah! Bukan pake pe, tapi pake ep. Kalau belum benar, Dinas Perhubungan tidak akan membayar biaya renovasi. Bisa rugi kita!” bentak sang kontraktor.

“Jangan lupa setelah kamu mengubah pe menjadi ep, segera dipasang, ya!” perintah sang kontraktor.

Di kantor, desainer kita yang juga orang Bandung menuruti perintah bosnya. Dia menuruti perintah atasannya itu dan kemudian memasang papan nama yang baru. Hasilnya adalah …

Huahahahaha…. jangan tersinggung ya, cuma lelucon saja kok.

20 thoughts on “Pengucapan

  1. Agak sedikit curiga dengan proporsi F di sana. mirip font Arial (bukan font yang biasa dipakai untuk tanda ini), ukuran yang sedikit lebih besar dengan huruf lain, dan posisinya yang agak terlalu tegak seperti ditempel.

    sayangnya dugaan ini tidak cukup kuat didukung oleh keadaan sekitar.

    anyway, saya sempat ngakak baca ini tadi :)) hahaha…

  2. weeeh udah lama bener nih, udah setahun yang lalu kali yaaaa… halte di ujung jalan Jati Baru. dulu tuh hatel namanya emang Ply Over. Cuma sebulan langsung ganti jadi bener Fly Over… dan rasanya sampe sekarang masih bener kok tulisannya.. hehehe

  3. #6 – kucingkeren
    saya tidak tahu apakah itu operdosisi atau tidak. tapi pakta mengatakan bhw tulisan itu gak bener. yang pasti, alasannya bukan karena episiensi, epektipitas dan lain-lain. orang yang naik pespa pasti akan bingung liat papan nama halte itu, ya?

  4. Mas Puji,

    Piye toh??? Kok putus lagi? Pas saya telp balik ternyata kantor ya?

    kesalahan bukan di saya, ya….

    hehehehe….

    Emailnya apa toh, mas? biar kita email2an aja.

    btw, udah ta’ ganti tuh, judulnya. Tapi pengennya sih ada wawancara sedikit, mas!

    hehehe….

    keep in touch ya….

  5. bung, karena ini dipublisher, sebaiknya anda mencantumkan darimana anda mengambil picture-nya. Dengan begitu, kita semua bisa menghargai etika dan hak karya orang lain. Jangan asal comot saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s