Pembantu Idola

Bisa jadi sang pembantu adalah sosok idolanya

Ini memang cuma sehelai kertas bekas ulangan seorang anak di sekolah. Secara umum, dia anak yang pintar. Nilai ulangan mata pelajaran ilmu sosialnya 8,3. Bocah belia kelas satu SD ini nampaknya terlalu jujur. Ketika disodorkan sebuah pertanyaan sederhana untuk mendeskripsikan cinta kasih orang tua terhadap anaknya, dia menjawab dengan lugu. Dia menjawab “pembantu” adalah orang yang memberikannya cinta yang tulus.

Mengapa dia menjawab seperti itu?Mungkin karena dia memang tidak pernah dipangku untuk dimanja oleh ibunya. Dia tidak pernah dibelai dengan lembut oleh mamanya yang pergi-pagi-pulang-malam untuk bekerja. Jangan salahkan dia jika dia lebih melihat pembantunya sebagai sosok yang penuh keibuan, lembut, penyayang dan penuh cinta.

Hati-hati bagi para orang tua yang gila kerja sehingga terlalu sering meninggalkan anak-anaknya bersama pembantu. Bisa-bisa sang anak akan lebih mengidolakan pembantunya daripada orangtuanya. Lucu sekaligus mengkhawatirkan!

15 thoughts on “Pembantu Idola

  1. Sering meninggalkan sih tidak apa, asal tetap care & sayang dengan anaknya sendiri.

    Saya sudah terlalu sering bertemu dengan orang tua yang seharian berkumpul terus dengan anaknya; namun antara mereka dengan anak-anaknya seperti orang asing.

    Quality over quantity :)

  2. Menurut saya karena ‘baju ibu’ di gambar itu lebih menyerupai pembantu di masa kini (kesan saya begitu). Mungkin ibu naka itu berpenampilan modern atau sering pakai baju kerja. Sehingga gambar itu dipersepsi sebagai pembantu. :)

  3. Saya sering heran dengan soal-soal seperti ini. Gimana ya… terlalu kuno, kalau boleh dibilang. Dan kenapa jawaban si anak disalahkan? Apa ada yang salah dengan kasih sayang seorang pembantu?

    Sama dan sebangun dengan soal-soal seperti “Siapakah yang memasak di rumah?”, “Siapakah yang berbelanja ke pasar?”, atau “Siapakah yang mencari nafkah di keluarga?” (pertanyaan2 ini juga pernah muncul dalam ulangan umum SD).

  4. Suatu sore seorang ibu pulang dari kantor. Si kecil berlari ke arahnya. Si ibu jongkok, membentangkan tangan. Itu anak ngepot dikit. Dia menghampiri pembantu yang berdiri di belakang ibunya. Itulah kisah yang pernah saya dengar. Lucu? Pahit?

  5. jd instrospeksi nih…
    kakak ipar saya pernah cemburu pada pembantunya, gara2 sang anak cuekin ibunya sepulang kantor, malah asyik dgn si ‘mbak’.

  6. Weh,
    kalo menurut gwe itu jelas nunjukin betapa jarak antara si anak dan ibu terlalu jauh. Gimanapun, kalau memang si ibu selalu hadir memberikan kasih sayang yang cukup,tentunya yang ada di kepala anak tentang kasih sayang adalah sosok ibunya.

    Saya kurang setuju dengan pendapat sufehmi yang mengatakan kuantitas akan mengurangi kualitas. Kalaupun ada (bisa diadakan penelitian loh) pastilah ibu yang dekat dengan anaknya akan menunjukkan kualitas kasih sayang itu.

  7. bisa jadi juga anak itu tidak punya Ibu, sudah meninggal sehingga yang memberikan kasih sayang malah pembantunya… pertanyaannya gitu sih… banyak pendapat

  8. Memang bener tu… kalau dulu ada pepatah yang mengatakan “kasih ibu sepanjang jaman” tapi jaman sekarang sudah nggak berlaku sekarang pepatahnya udah ganti menjadi “kasih pembantu sepanjang jaman” he..he…

    Salam kenal sama si empunya blog. Ngomong2 itung-itungan antispamnya kok soalnya sulit banget ya… he..he… ketahuan nih… nilai matenya jelek he..he…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s