Keledai Keledai

Seharusnya keledai tidak mungkin memerosokkan dirinya ke lubang tempat dia pernah terperosok
keledai

Kita mengenal keledai (Equus asinus) dari peribahasa “Hanya keledai yang terperosok dua kali di lubang yang sama.” Hewan ini sendiri jarang kita lihat di Indonesia. Paling-paling kita melihatnya di televisi. Meski tubuhnya lebih kecil dibandingkan kuda, keledai dikenal sebagai hewan yang kuat menahan beban berat. Kita juga sering melihat ada keledai yang mengangkut beberapa karung besar yang sedang melintasi daerah pegunungan.

Keledai juga bisa dibilang sebagai hewan yang istimewa. Hewan ini disebut-sebut sebagai tunggangan Yesus ketika dia akan memasuki kota Yerusalem. Dia tidak menunggang kuda yang gagah atau gajah yang kuat, tapi keledai yang sering disebut sebagai hewan yang dungu. Saya sendiri tidak tahu mengapa keledai sering disebut-sebut sebagai binatang yang dungu. Apakah karena si keledai ini oke-oke saja ketika disuruh mengangkut beban yang berat? Apakah karena keledai tidak bisa belajar dari keledai yang lain? Saya tidak tahu jawabannya. Yang pasti, keledai adalah hewan yang dungu.

Nah, bagaimana jika ada keledai yang terperosok di lubang yang sama dua kali? Saat dia terperosok di lubang yang pertama, dia mengatakan bahwa lubang itu membuatnya merasa lebih punya tenaga. Si keledai ini kemudian berhasil menarik simpati banyak orang. Kelakuannya yang menawan, tutur katanya yang lembut, membuat banyak orang memaklumi mengapa si keledai ini terperosok di lubang ini. Apalagi setelah itu dia mengajarkan kepada keledai-keledai yang lain agar jangan mengikutinya. Dia mengajarkan bagaimana caranya agar tidak terperosok di lubang yang telah membenamkannya.

Tapi ternyata setelah dia memberikan pencerahan bagaimana menghindari lubang itu, justru dia yang masuk ke lubang ini dengan sukarela. Yah, maklumlah. Keledai ternyata memang seperti itu adanya. Si keledai kita ini sekarang berkubang lagi dengan kesengsaraan yang sama. Dia tidak bisa bebas meski dia pernah mengatakan bahwa kebebasan itu mewah sekali rasanya.

Keledai kita ini ternyata adalah keledai munafik. Dia mengajarkan cara untuk tidak masuk lubang yang pernah dimasukinya, tapi ternyata dia sendiri tetap berkubang di dalamnya. Keledai kita ini ternyata tidak bijaksana meskipun namanya adalah Wicaksono AS. Yang pasti ini bukan nama Ndoro Kakung, lho…Duh….

Baca juga:

9 thoughts on “Keledai Keledai

  1. Bagal itu khan anak kuda betina dan keledai jantan. Hmmm… mungkin dia masih nurunin sifat bokapnya. ya dia pasti masih dungu juga. Hahahha…

    Eh, saya pastinya nggak tahu lho. Coba nanya sama ahli genetika…

  2. Terperosok atau memerosokkan diri? bukan dungu dong mas..tapi pinterr… di lubang itu dia bisa charging energi. Spt jg keledai itu, bayangkan sj ‘dia’ kemana-mana harus membawa beban berat, melewati padang pasir, kalau masuk lubang, kan lumayan bisa istirahat ‘sejenak’… hehe..Btw ndoro kakung masuk lubang? ehh salah ya, wicaksono AS yakk… peace ahh.. ;-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s