Pengemis di Jakarta

Selektiflah dalam memberi.

Berapa kali sehari Anda melihat pengemis di Jakarta? Dari pagi sampai malam mereka beroperasi. Di perempatan jalan, di sepanjang jalan yang macet, di atas angkutan umum, di seputar tempat ibadah. Nampaknya mengemis sekarang memang sudah dijadikan sebagai profesi. Contohnya adalah seorang ibu yang selalu duduk di bawah kolong jembatan Slipi ini. Di pagi hari dia bersama seorang bayi duduk di trotoar.

Pengemis DKI

Dia sama sekali tidak menghiraukan asap yang keluar dari knalpot mobil dan motor. Jelaga itu pasti memenuhi hidung dan paru-parunya. Ya, begitulah. Dia rela duduk berjam-jam di situ. Sesekali dia menengadahkan tangannya, mengiba kepada para pengendara mobil dan motor untuk memberinya sedekah. Tapi, awas lho. Pemda DKI kemungkinan besar akan melarang orang untuk menjadi pengemis dan memberi uang kepada pengemis. Ancaman hukumannya tidak main-main. Pengemis dan warga yang memberi uang ke pengemis terancam denda Rp 100.000 sampai Rp 20 juta atau kurungan dua bulan.

Hmmm… terus terang saya tidak setuju dengan larangan yang akan diundangkan seperti ini. Memang, berulang kali media massa melaporkan tentang adanya mafia pengemis. Mereka adalah orang-orang yang mengorganisir pengemis untuk beroperasi di jalanan. Mereka juga seringkali menyewakan bayi untuk diajak mengemis. Ini bukan barang baru. Nah, orang-orang seperti inilah yang seharusnya diberantas.

Pengemis DKI

Lalu, apakah kita sebaiknya tidak memberi kepada pengemis? Saya tidak tahu jawaban pastinya. Saya sendiri sangat selektif jika akan memberi kepada pengemis. Pengemis yang masih segar bugar tentu saja tidak akan saya beri. Mereka hanyalah pemalas saja. Pengemis yang membawa bayi juga tidak saya beri. Besar kemungkinanannya mereka juga bagian dari mafia pengemis Jakarta.

Sebenarnya akan lebih aman seandainya sedekah kita disalurkan kepada tetangga kanan kiri kita yang benar-benar kita kenal dan benar-benar membutuhkan. Kita pasti tahu siapa mereka dan kekurangan yang mereka butuhkan. Bisa juga sedekah disalurkan melalui tempat ibadah masing-masing. Bisa di masjid atau gereja.

Jika rancangan peraturan daerah itu benar-benar diberlakukan, artinya para pengemis itu bisa menuntut lapangan kerja ke Pemda DKI. Selama lapangan kerja tidak terpenuhi, selama itu pula pengemis ada di jalanan. Selam ada orang yang malas, selama itu pula ada pengemis di jalanan. Makanya, untuk membatasi jumlah mereka selektiflah dalam meberi sedekah. Dan, pak Sutiyoso, sediakan dong lapangan kerja.

Ada komen?

30 thoughts on “Pengemis di Jakarta

  1. Apakah kita sebaiknya memberi kepada pengemis?Jawabannya hanya ada dalam nurani hati kita. Kalau niatnya mau menolong, tulus, kadang2 kita gak peduli apa pengemis itu di bawah jaringan mafia atau tidak. Hanya Tuhan yg bisa menilai. Terus terang saya sering melihat sebuah mobil bak yg sedang mendrop pengemis di sebuah perempatan jalan di bogor (Yg dekat apple pie itu lho, jalan pangrango ya klo gak salah). waktunya sekitar habis subuh. Terus di sepanjang jalan fatmawati, setelah tarawih, coba deh perhatikan ada gerobak2 dorong, isinya ibu2 dan anak2. Dg baju seadanya mereka menatap kosong para pengguna jalan. Waktu melihat pertama kali, saya langsung terhenyak, busyet kok masih ada ya org yg ‘bermalam’ di gerobak butut, hampi saja sy berhenti, tapi teman di sebelah bilang.. tenang, gak usah keburu2, di depan juga banyak kok. hehe bener juga. berderet bo, meski jaraknya tak berdekatan. Yaahh, kadang2 merasa tertipu juga sih, apalagi kalo lht tayangan televisi ttg trik mrk spy terlihat menderita. Tapi lepas dari semua itu, sy salut juga sama ‘mafia’nya, pinter banget ya mrk menciptakan sesuatu yg bisa mengusik rasa kasihan orang lain. Jangan-jangan mereka itu orang pinter yg terbuang dari dunia birokrat…hehehehe, mlantur yak… peace deh..

  2. memang persoalan pengemis adalah merupakan dilema bagi pemerintah maupun bagi masyarakat. Rasa kemanusiaan kita pasti terusi melihat pengemis2 sambil menggendong anak2, tua renta, dll, tapi sebanyak apapun kita berikan mereka sedekah, tetap saja mereka menjadi pengemis. Mungkin bagi sebagian warga jakarta rasa kemanusiaan itu perlahan terkikis hilang karena disuguhkan pemandangan seperti gambar diatas (menyedihkan atau menyebalkan memuakkan…)setiap hari!

  3. #1 Susan,
    Ya, saya setuju. Kembali ke nurani kita. Kalau yakin memberi, berikan saja…

    #2 petroek™,
    Semakin banyak mereka diberi, semakin lama mereka bertahan di jalanan. Begitu teorinya?

  4. saya suka ndak tegaan dengan pengemis yang tua renta, tuyuk2 mas. pasti saya beri ke mereka. eh, ntar kena denda gak ya kalo perda jadi disahkan…;-)

  5. Mungkin lebih baik memberi melalui lembaga seperti dompet dhuafa atau amil zakat? IMO, mereka pasti lebih bisa menyeleksi siapa yang paling membutuhkan. Tetapi, lagi-lagi, saya juga setuju dengan “jika sudah mantap memberi, maka berilah”.

  6. Pingback: Jakarta's byte bite

  7. dulu ada artikel (lupa dimana) kalau ternyata pendapatan pengemis itu bisa jadi di atas UMR. jadi kalaupun ada lapangan kerjanya, mereka gak bakalan mau kerja beneran. solusinya ya kita harus selektif dalam memberi. kalau bisa jangan langsung ke orangnya, tapi lewat LSM yang punya spesialisasi di situ. mereka akan memastikan kalau uangnya dipakai untuk hal2 yang baik.

  8. Pemerintah sepertinya lepas tanggung jawab terhadap para pengemis dan anak jalanan. Sekarang malah orang yang memberi sedekah yang ditakut-takuti peraturan baru itu…harusnya kalau mau keluarkan larangan ya larang saja para gelandangan, pengemis, dan anak jalanan itu berkeliaran di wilayah Jakarta. Benar-benar lempar tanggung jawab…

  9. Di yogya mulai rame jg yang semacam itu, plus metode amplop di ATm, dan bahkan kemaren saya menjumpai di bus kota.

    Dilemanya ya sama, jika diberi bisa jadi itu akan semakin meyakinkan mereka untuk tetep menempuh profesi sama. Jika tidak diberi, bsia jadi mereka yang anda hadapi itu benar-benar memerlukan bantuan.

    Nasihat istri saya, kalau mmg mau memberi beri saja barang yang bsia langsung meraka pakai. INi sesudah anda filter, mana yang kira-kira patuut diberi.

    Yang aneh, saya pernah mencoba memberi kue pada seorang anak yang “mengamen” di tempat makan, tapi ditolak dengan sopan oleh si anak. Tanya kenapa?

  10. #11 toni
    Minta uang kepada orang yang baru keluar dari ATM adalah sebuah kejeniusan. 90% orang yang keluar dari ATM pasti ngambil duit. Pengemis spt ini berarti menggarap niche market dan dia benar-benar menerapkan prinsip ekonomi: dengan usaha sekecil-kecilnya berharap hasil setinggi-tingginya. Bisa jadi orang spt itu benar-benar paham marketing tuh. Kalo gedhe nanti bisa jadi manajer marketing. hahaha…

  11. Wow, susah membedakan mana pengemis asli, mana yang profesi. Akhirnya, kasih aja kalo mau ngasih dan tak perlu mikir macem2, daripada sudzon kan?

  12. Setuju dengan Hedi: kalau memang mau ngasih, ya kasih aja ga usah mikir macem2 lagi. Profesi ga profesi, itu sih urusan yang di atas.

    Apapula urusan pemerintah mendenda orang yang memberi uang kepada pengemis? Ini duit gw, apa urusan mereka? Bikin peraturan ndablek…

  13. masalah pengemis nggak akan ada habis habisnya sepanjang kemakmuran yang nggak merata..ini seperti mana dulu antara telur dan ayam. Hanya saja dalam logika berpikir saya, pengemis ini lebih banyak mudaratnya, karena umumnya masih sehat dan produktif.

  14. Seperti biasa lagi-lagi pemerintah menghantam akibatnya (pengemis), bukan sebabnya (tidak meratanya kemakmuran).

    Saya pribadi mencoba untuk memilih-milih sebelum memberi. Misalnya; orang2 jompo yang mengemis jam 2 pagi (ketika para pengemis anggota mafia sudah nyenyak tertidur di rumahnya masing2) saya kira pasti memang sangat membutuhkannya.

  15. Wah stuju bner tuh ma susan… n btw artikelnya boleh loh..emm mmg balik lagi ke hati nurani.. bahkan jg da loh yg anaknya diomelin abis krn ga myampe target (penghasilan gitu) wuuuu kasian bner d anak2 yg ga tau apa2 smp hrs dikorbanin gitu… hayo para mafia jgn kau kobarkan mreka2.. klo da gini hati nurani d yg bicara..

  16. Saya gak pernah ngasih pengemis gimana pun modelnya, justru saya ngasih ke anak2 yang jual koran, yang jelas2 ada berusaha dari pada mengemis.

    Jangankan pengemis, yang minta dana / sumbangan mesjid yang pasang drum tengah jalan, hemmmm dari jaman dulu gak pernah saya kasih, tapi saya jadi donor tetep mesjid lingkungan.

  17. Yaaaa betul klo mo ngasih ya dari hati nurani , klo aq biasanya ngasih ke mesjid ato ke dompet dhuafa dan amil zakat dan ke panti asuhan serta panti werda , tapi misalnya di tanya siapa yang salah dari masalah ini kita sendiri juga tidak tahu asal muasal pengemis di mulai , memang ini masalah pelik yang dari dulu tidak pernah bisa sukses di selesaikan oleh pemerintah negara manapun biarpun itu negara adi daya sekalipun di manapun juga , kerna proyek ini memang tidak menghasilkan apa apa bagi mereka , aq kira sebaiknya mulai sekarang dari tingkat r t mulai berjalan untuk menyelesaikan dalam lingkungan sekitarnya dulu sambil menunggu reaksi dari pemerintah – gubernur – d p r serta menteri , apa tanggapan dari mereka apa tetep adem ayem saja ????? hanya Allah saja yang mengetahui .

  18. Kalau kita setuju kota Jakarta seperti sekarang ini, banyak orang berdagang seenaknya dipinggir jalan, orang mengemis bawah bayi d anak kecil di jalanan, dsb-dsbnya. Yah Ok. Tidak ada komentar.

    Tapi kalau kita mau lihat Jakarta jadi bagus seperti Singapore.. terus karena tertib banyak investor datang. Karena setahu saya, investor asinglah yang gerakkan ekonomi. Investor Asing datang taruh duit…mereka orang Singapore yang kerja (soalnya aku punya kantor juga disana). Negara dan rakyat jadi sejahtera.

    Setahu saya (dengar kakek yg pernah tinggal disana) waktu berpisah dari Malaysia dulu, Singapore masih biasa-biasa aja. Jakarta sekarang jauh lebih bagus. Tapi, Mr. Lee terapkan aturan yang sangat keras. Yaitu semua orang harus kerja keras. Semua orang harus tertib. Mengapa begini, karena mereka waktu itu sangat berantakan. Jadi kota harus diatur dengan tegas.. disiplin. Dimanapun kota d dunia yang bagus.. yah seperti itu.
    So, apa Jakarta mau bagus?..

  19. kalo jadi pengemis tolong aja ya jangan bawa baby yang masih kecil mungil kaya dia kasihan banget loh kalau dia sampe kepanasan ?
    tu orang dah gila ya mungkin.
    dibawa panas-panasan sampe terkena debu dijalanan wah hebat banget tuh orang tuanya emang engak ada rasa kasihan banget tuh
    orang sama anaknya yang masih kacil yang engak tahu apa-apa entar dosa lo engak bagus lo kalau bawa anak yang masih kecil dijalanan dia kan masih kecil tau kalo pengen cari duit mah jangan bawa anak kecil hehehehehe kasihan banget baby yang engak berdosa mana terkena debu di jalanan ya udah kalo begitu selamat tingal ya somoga kita ketemu lagi bye?????????

  20. menurut saya pengemis harus dihilangkan dari jakarta walaupun itu adalah pekerjaan mereka tapi hal ini bisa membuat kota jakarta macet.dan saran saya pemerintah harus memperhatikan hali ini dan beri pelayanan terbaik bagi para pengemis ini supaya hidup mereka tidak terlantar lagi. dan supaya kota jakarta menjadi kota yang bebas pengemis.

  21. warga indonesia sememangnya gak malu.di negara sendiri masih bisa jadi pengemis.dia gak malu.gak mahu berusaha.gak bekerja. pemalas.

  22. berikanlah milikmu atau hartamu kpd org yg pantas di beri, kalo tidak jangalah lakukan itu…kalo memberi, jangalah berpikir panjang lalu lupakan kejadian itu selamanya…

    insya allah kalian akan jadi sahabat2ku kelak… ku akan muliakan hidup kalin dgn sbuah lapangan pekerjaan baru bukan ikan tapi alat kail & danau…. jgn lah berharap dari warga ibukota krn kalian, gelandangan & org2 tdk mampu akan & hny jadi obyek/bahan obrolan/opini apapun bentuk & sikonnya… bantu dalam doa2 kalian.. krn kelak aku akan datang kpd kalian di seluruh negeri ini secara bertahap.. amiin..amiin… ya robbal ‘alamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s