Mengemis sebagai profesi

Sudah berulang kali kiranya media massa kita menyoroti banyaknya pengemis saat bulan ramadhan tiba. Bahkan, televisi kita juga sudah melakukan reportase tentang bagaimana para peminta-minta itu melakukan triknya agar nampak lebih memelas. Ada yang membuat luka buatan, ada pula yang pura-pura cacat.

Nah, seorang pengemis yang saya lihat di jalan ini contohnya. Sudah lama dia beroperasi di bawah kolong jembatan Slipi. Lokasi ini memang strategis. Ratusan mobil tiap hari lewat jalanan ini. Kendaraan yang lalu lalang di sini pasti jalannya lambat di pagi hari. Maklumlah, jumlahnya sangat banyak dan berjejal-jejal. Apalagi jika palang kereta api diturunkan, kemacetan semakin menjadi-jadi. Sekitar sore dan malam hari wanita ini akan berpindah lokasi operasinya. Dia akan berada di atas jembatan, masih bersama bayinya. Jika tidak percaya, silakan cek sendiri saat kemacetan melanda daerah Slipi. Dia berada di atas jembatan Slipi yang menuju ke arah Grogol.

Wanita ini tidak sendirian mengemis. Dia ditemani seorang balita yang diletakkannya di trotoar. Benar-benar sebuah trik yang amat jitu! Dia menengadahkan tangan saat satu per satu mobil lewat. Sementara itu anak kecilnya tiduran di selembar kain yang digelar di trotoar.

Kalau tidak salah ingat, saya sudah melihat wanita ini sejak satu atau dua tahun ini. Apakah bayinya tidak bertambah besar? Ah, jangan tanya hal itu. Di Jakarta ini apa sih yang  tidak bisa disewa? Bayi untuk piranti mengemis pun ada persewaannya. Benar-benar tidak manusiawi. Sebuah koran pernah mengungkap bahwa biaya sewa satu orang bayi per hari untuk diajak mengemis adalah Rp15.000 sampai Rp25.000. Nah, penyewa harus menyediakan makanan dan minuman untuk sang balita. Tapi, jarang ada pengemis yang memberikan susu ke bayi sewaan ini. Paling-paling cuma air teh manis saja.

Berapa hasil dari mengemis per hari? Konon, seperti diungkap oleh televisi akhir-akhir ini, saat bulan ramadhan seperti ini penghasilannya melonjak tajam. Banyak orang yang berlomba-lomba memberikan sedekah. Minimal orang bermobil melempar lembaran seribuan ke pengemis. Uang gocap sudah jarang dilemparkan. Tidak heran jika uang Rp100.000 per hari pasti sudah di tangan. Bayangkan, jika dia mengemis setiap hari maka gaji seorang sarjana lulusan UGM yang baru pertama kali kerja pun akan dikalahkan oleh penghasilan seorang pengemis. Hebat, bukan?

Ya, begitulah salah satu potret di Jakarta sekarang. Saya sendiri terus terang tidak pernah memberi uang ke pengemis di jalanan. Setelah tahu laporan media massa yang mengungkapkan kebohongan yang dilakukan para pengemis, saya tidak memberi uang ke mereka. Jika kita membei uang ke pengemis palsu seperti itu, artinya kita memberikan harapan ke mereka. Harapan inilah yang memaksa mereka untuk tetap berada di pinggir jalan dan mengemis tiap hari. Hasil mengemis jauh lebih besar daripada membanting tulang, khan? Nah, untuk memaksa mereka bekerja, satu-satunya cara adalah dengan tidak memberi mereka uang. Jika ingin membantu orang lain, bantulah orang yang benar-benar Anda kenal, misalnya tetangga di kanan kiri Anda. Bantuan seperti itu pasti tepat sasaran daripada memberi ke para pengemis jalanan.

Read and post comments | Send to a friend

One thought on “Mengemis sebagai profesi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s