Odong-odong

Meski saya pernah merasakan jadi anak kecil, tapi saya pikir saya tidak seperti anak sekarang. Paling tidak saya tidak suka odong-odong, becak bermusik dan berkepala naga yang keliling kompleks tiap hari. Waduh, saya heran dengan anak-anak sekarang. Apa coba bedanya naik becak dengan naik odong-odong: mesinnya sama, pengayuhnya juga sama. Bedanya cuma kalau becak tidak ada musiknya, odong-odong selalu bermusik dangdut yang membuat anak-anak berjoget. Becak harganya lebih murah, odong-odong lebih mahal padahal untuk rute saya sama. Ampun deh anak-anak sekarang.

Tapi, saya suka dengan kreativitas abang-abang becak yang beralih menjadi pilot odong-odong itu. "Pendapatan saya naik dua kali lipat sejak saya menjadi penarik odong-odong," kata Warsito, pilot mesin berkepala naga itu.

Tentu saya bungah dengan ceritanya yang terus terang. Ayo, siapa yang mau keliling kompleks naik odong-odong? Tarik mang…..

Read and post comments | Send to a friend

One thought on “Odong-odong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s