Lurker itu

Saya memang seorang “lurker”. Nggak ada salahnya, khan?

Seorang teman di kantor menyebut saya sebagai “lurker”. Saya tidak tahu istilah itu sampai ketika kemarin saya mengirimkan sebuah email ke milis resmi di kantor. Ini mungkin email pertama saya dalam tiga bulan terakhir. Saya memang kurang suka berdiskusi lewat milis. Nah, itulah sebabnya saya disebut sebagai lurker, menjadi anggota sebuah milis, jarang mengirimkan pesan, namun semua pesan yang ada di milis itu saya baca dengan seksama.

Ngomong-ngomong, kenapa saya menjadi seorang “lurker”? Saya sendiri tidak tahu mengapa. Kalau milis di kantor memang saya kurang begitu bergairah membacanya. Aturannya agak kurang jelas. Kadang email yang dikirim dalam forum ini begitu seriusnya, tapi kadang juga begitu amburadulnya. Batas antara yang serius dan yang tidak serius sangat jauh namun bercampur menjadi satu. Bayangkanlah milis yang seperti itu. Lebih baik menjadi seorang “lurker” saja, khan?

Ada alasan lain? Ehm, mungkin juga karena etika dalam milis yang tidak ditaati. Misalnya ada pemberitahuan di milis tentang adanya orang yang keluar dari tempat kerja. Anehnya, beberapa saat kemudian ada berbagai ungkapan menjawab email itu memberi ucapan selamat jalan, selamat menempati tempat baru, selamat bertemu lagi dan seabreg ungkapan yang aneh-aneh. Ya, saya pikir ini aneh. Wong teman kita itu sudah pindah, kok. Tidak mungkin dia membaca email itu di milis, bukan? Nah, lebih enak jadi “lurker” daripada menjadi anggota aktif jika milisnya seperti ini, khan?

Ya, begitulah. Saya memang seorang “lurker”. Nggak ada salahnya, khan? Apakah Anda juga seorang “lurker”?

14 thoughts on “Lurker itu

  1. Saya adalah seorang “lurker” juga…
    Dari belasan milis yang saya ikuti, hampir semuanya saya sangat jarang berpatisipasi didalamnya.
    Berangkat dari tujuan saya ikut berbagai milis tersebut yaitu mendapatkan pencerahan dan menambah wawasan yang selama ini jarang saya selami walaupun pemahaman saya tentang topik yang ada maih sangat dangkal.
    Tetapi harapan kedepannya, saya ingin berpartisipasi aktif didalamnya…

  2. long live the lurker…

    Aku juga sering jadi lurker. Sibuk sih.. Kadang2 doang membaca, itupun yang penting2.

    Ucapan selamat, akan pindah, dan sejenisnya biasa langsung saya buang ke trash

  3. Aku juga lurker kok mas, ikut milis jarang nulis dan lebih sering nunggu info baru. Biasanya di milis banyak hoax atau info kadaluwarsa sih :D

    Btw, sampeyan dapet salam dari Nadya (eks design iklan Koran Tempo).

  4. Sepertinya saya juga termasuk “lurker”. Entah itu di milis maupun blog. Saya suka membaca, mengikuti thread… tapi jarang ikut memberikan komentar.

    Sempat malah, gara-gara lurker, sampai tidak diketahui keberadaannya di tempat itu… Hihihihi…

    Iya, kadang memang lebih enak menjadi lurker kali ya? :D

  5. Banyak milist yang saya ikuti dan di sebagian besarnya (atau semuanya) saya menjadi lurker. Memang tidak masalah jika satu atau dua orang seperti itu, tapi kalau semuanya begitu, trus mengpa ada milist ???

  6. Aku juga lurker kok, Mas Puj, everybody is. Tapi aku bukan lurker di milis, tapi di blog. Aku suka blog walking dan ngubek2 archive orang yang punya blog yang aku pikir cool dan worth-reading, mem-bookmarked-nya, tapi nggak ninggalin jejak apapun. Maksudnya sih bukan untuk memata2-i, tapi emang males aja.

  7. baru aja saya bingung maksudnya lurker itu apa di search ketemu artinya disini. baru join di salah satu forum n dibilang jgn jadi lurker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s