Kerbau di Kota

Saya melihat tiga ekor kerbau ini di lapangan. Ketiganya kelihatannya tidak bergairah untuk hidup. Bayangkan saja, matanya sipit dan tidak sangar seperti bantengnya Bu Mega. Kasihan sekali kerbau ini. Lapangannya kering, rumputnya pendek. Pasti rasa rumput ini tidak enak, ya? Nggak heran kalau kerbau ini tidak mau makan rumput. Jadilah sampah pun dimakannya. Mungkin rasanya juga tidak enak juga. Tapi, apa boleh buat.

Inilah nasib kerbau di Jakarta. Sawah yang dulunya dibajak sudah digusur perumahan. Tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan. Sungai tempat dia sering dimandikan pun sekarang sudah berubah. Tidak lagi jernih seperti dulu. Sekarang warnanya menjadi hitam akibat polusi pabrik. Duh, merana benar kerbau ini.

Saya tebak kerbau ini tidak lama lagi akan berubah menjadi rendang. Wah, rendang kerbau pun tidak enak rasanya. Pasti dagingnya alot, tidak lunak seperti  daging sapi yang empuk. Duh, hidup salah, mati pun nggak kebeneran juga. Dasar, nasib kerbau di Jakarta memang tidak bagus. Merana…

Read and post comments | Send to a friend

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s