Penjual Air Nira di Kebayoran

Saya bertemu dengan pak Achmad Sanusi, penjual air nira itu, pada suatu siang yang terik
di bawah jembatan layang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dia sedang duduk. Tampaknya
sedang melamun sambil melihat orang yang lalu-lalang.

"Sudah dua tahun saya berjualan air nira ini," katanya membuka percakapan. Saya mememesan
satu gelas air niranya.

"Saya berasal dari Rangkasbitung. Di Jakarta ini saya kost di dekat pasar Inpres di dekat
stasiun," katanya sambil memegang topi yang bertuliskan WorldCup itu. Wajahnya tampak
lelah dan capek. Rangkasbitung adalah sebuah kabupaten di provinsi Banten, sebelah barat
selatannya Jakarta. Kita bisa pergi ke kabupaten ini menggunakan kereta ekonomi yang
berangkat dari Stasiun Pasar Tanah Abang, Stasiun Palmerah, atau Stasiun Kebayoran Lama.

"Air nira ini tidak saya ambil sendiri dari pohon. Ada orang yang mengirim air ini setiap
hari," kata bapak yang menurut perkiraan saya berumur sekitar 50-an tahun ini. Disedotnya
rokok yang tinggal seujung itu dalam-dalam.

"Kerja seperti ini berat, Mas. Saya baru berani pulang ke Rangkasbitung jika sudah
memegang uang Rp.100 ribu. Uang sebanyak itu baru bisa saya kumpulkan selama tujuh hari
penuh. Bahkan saya harus berjualan di sini sampai jam 10.00 malam," katanya. Sedih saya
mendengar dia bercerita seperti ini. Tapi itulah kenyataan hidup di Jakarta.

Satu gelas air nira sudah saya habiskan. Saya menebak-nebak harganya. Saya pikir harganya
sekitar Rp.2500-an. Ketika gelas itu saya sorongkan kepadanya sambil menyerahkan uang
Rp.5000-an, dia dengan cekatan mengambil kembalian. Saya hitung sepintas ketika dia
mengambil lembaran-lembarang uang seribuan. Empat buah lembaran itu dikembalikannya kepada
saya. Walah, air manis dan sejuk ini ternyata segelas hanya berharga Rp.1000 saja.

Duh…

Read and post comments | Send to a friend

2 thoughts on “Penjual Air Nira di Kebayoran

  1. Gue jadi inget dongeng jadul soal penjual air nira ini (di Sunda disebut lahang).

    Euis, anak SD kelas 1 baru pulang dari sekolah.
    "Ma, Euis baru ketemu sama pejuang. Bawa bambu runcing, gede banget!"
    "Oh ya? Pejuangnya nanya gak sama Euis?"
    "Iya, nanya."
    "Nanya apa?"
    "Neng, lahang, neng?"

  2. Miris, hati teriris-iris. Gak tega deh lihat gambarnya.
    Tapi sayang, cuma bisa nonton. Jadi kepikiran, andai aku jadi menteri kesejahteraan rakyat, gimana ya cara ngangkat kemiskinan yang bejibun ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s