Anis, Monyet Pintar di Kampung

Liburan kemarin saya ke Purbalingga, sebuah kota kecil di Jawa Tengah tempat saya berasal. Hanya dua hari saya berada di tanah kelahiran saya itu. Jumat sore saya lepas dari Jakarta dan Minggu malamnya saya kembali lagi ke ibukota ini.

Sabtu lalu ketika saya sedang santai dengan beberapa keponakan, tiba-tiba terdengar suara gamelan sederhana ditabuh bertalu-talu. Ini bukan jenis gamelan dengan gaya yang rapi jali. Ini hanya tetabuhan dengan dua jenis instrumen saja. Satu buah bilah-bilah logam yang dipukul dengan kayu, sedangkan yang satunya adalah kendang sederhana yang juga dipukul dengan kayu yang dilapisi karet. Ternyata yang datang adalah rombongan tukang topeng monyet. Tidak biasanya tukang monyet ada di kota saya. Di Jakarta memang sering ada tukang topeng monyet berkeliaran di kampung-kampung. Tapi, di Purbalingga ini, sejak saya masih kecil sampai dengan sekarang ini baru pertama kali ini ada topeng monyet.

Sebenarnya saya tidak tertarik dengan kesenian ini. Tapi, karena banyak keponakan yang masih kecil, okelah saya panggil tukang topeng monyet ini ke halaman rumah. Ternyata bayaran untuk satu sesi tidaklah mahal, hanya Rp.7000 saja.

Mulailah monyet bernama Anis yang diikat pada bagian leher itu beraksi. Dia tampaknya sudah hafal dengan perintah pawangnya. Sebelum permainan dimulai saya wanti-wanti ke pawangnya agar dia tidak bermain kasar terhadap monyetnya. Sang pawang setuju.

Paling tidak ada tujuh atau delapan permainan yang dipertontonkan. Dari mulai monyet membawa gerobak, monyet mencari kayu bakar, monyet main perang-perangan, monyet mencari air, monyet bersolek, monyet salto dan lain-lain. Anak-anak yang berkumpul di halaman rumah tampak benar-benar menikmati sajin yang jarang mereka dapatkan ini.

Pada akhir pertunjukkan sang pawang memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk membelai Anis. Sang pawang hanya berpesan agar anak-anak tidak takut terhadap monyet ini dan jangan berteriak-teriak supaya monyet tidak kaget. Banyak anak yang memberanikan diri untuk mengelus Anis. Monyet ini pun diam saja sambil menikmati buah kelengkeng yang diberikan oleh keponakan saya.

Atraksi berakhir tatkala sang monyet mengedarkan mangkok kosong untuk diisi uang dari para pengunjung. Anak-anak banyak yang memberi recehan. Mereka bersorak gembira. Semua senang.

Read and post comments | Send to a friend

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s