Sepakbola Indah itu

Ada juga yang menyebutnya Joga Bonito

Piala Dunia 2006 telah usai. Bagi Anda pendukung Prancis, silakan nangis Bombay selama-lamanya. Di lapangan sudah terbukti bahwa tim Ayam Jantan takluk lewat adu pinalti. Bagi Anda pendukung tim Azzurri, silakan bergembira sepuas-puasnya. Meskipun kebobolan terlebih dahulu, nyatanya Italia mampu bangkit untuk menyamakan kedudukan dan akhirnya menang.

Sekarang, saatnya untuk kembali bekerja. Tidak ada lagi begadang di dini hari menonton pertandingan Piala Dunia. Paling-paling nanti ada siaran langsung Liga Italia, Liga Inggris atau Liga Spanyol. Tambahan lagi, siaran langsung Liga Champion Eropa.

Ngomong-ngomong, bagaimana refleksi event empat tahunan ini? :

  • Jumlah gol kok kelihatannya semakin sedikit, ya? Nah, bagaimana cara agar jumlah gol semakin bertambah? Jika saya presiden FIFA, maka saya akan menghapus adanya offiside. Seringkali perangkap offside oleh pemain belakang membatalkan terjadinya gol. Selain itu saya akan melarang back pass, misalnya setelah bola melewati garis tengah, bola dilarang untuk dioper ke pemain yang ada di belakang, apalagi ke kiper. Sepakbola bertahan tidak ada di masa mendatang. Serang, serang, serang!
  • Kekerasan di lapangan semakin brutal. Bagaimana cara mencegahnya? Kartu kuning dan kartu merah adalah jawabannya. Pemain tinju, karate, kung fu, kempo dan sejenisnya tentu tidak pantas berada di lapangan bola, khan?
  • Wasit semakin tegas, tapi terlalu kaku, ya? Karena sekarang jaman sudah semakin canggih, wasit bisa meminta pendapat dari petugas yang menonton pertandingan lewat kamera. Butuh waktu, dana, dan teknologi memang. Tapi, keputusan wasit akan dijamin lebih bisa dipertanggungjawabkan.
  • Pemain semakin licik, diving memawabah. Nah, ini dia pemain yang suka menipu wasit dan penonton. Sebaiknya pemain yang suka melakukan diving diajak main sinetron saja, deh. Keahlian mereka berakting lebih cocok berada di depan kamera sutradara daripada di lapangan bola
  • Ada komentar?

10 thoughts on “Sepakbola Indah itu

  1. bagaimana biar jumlah gol tambah banyak?
    Ijinkan Indonesia ikut Piala Dunia (pake wild Card kayak di tennis) … pasti deh persentase jumlah gol melejit drastis. Kok bisa?

    Ya! Indonesia siap jadi lumbung goal!!!

  2. Piala Dunia 2006 ini menurut saya.. Ajang Kiper . Bukan attacking/defensif-nya , tapi justru para kiperlah yang dominan . Mulai dari penyelamatan gemilang sampai adu pinalti . Pertandingan2 piala dunia kali ini cukup atraktif , tampil menyerang . Tapi ya itu.. kipernya jago2 jadi terpaksa harus sering adu pinalti :)

  3. Bukan pemain yg makin kasar, tapi pemain makin pintar bersandiwara dan mengelabui hakim garis/wasit. Bila di-cross reference dengan hasil rekaman video terlihat. Di Jerman setelah pertandingan ada acara lawak, yang selalu mengomentari video-video “tipuan” ini.

    Tampaknya FIFA tidak bisa menghindari lagi penggunaan video sebagai barang bukti. Sayang tahun ini FIFA akan ambigious, di satu sisi menggunakan video (kasus Frings) di sisi lain mengabaikan video (kasus Zidane). Kedua-duanya kebetulan menguntungkan Italia.

    Teknologi LEMATCH telah dikembangkan untuk mengatasi hal itu di masa datang.

  4. gw setuju italy menang, tp gw ga stuju kalo zidane diprovokasi materazzi sampe kena kartu merah…bravo azzuri

  5. jogo bonito jogo bonito, kalo kalah tetep aja ngga indah…
    Mending ‘sepakbola negatif’ aja, cattenaccio. Efisien, efektif, ngga macem-macem. Bertahan ya bertahan, menyerang ya menyerang.
    ‘SEPAKBOLA NEGATIF’ — yang katanya jelek —, terbukti indah kok kalo menang….

  6. dengan ada teknologi pertangan sepakbola semakin banyak yg pimpin!krn wasit sendiri sulit untuk mengambil keputusan sendiri n karna semkin banyak nya sinetron2 pemain sepak bola jd banyak belajar diving.gol gol semakin sdkt itu positif brarti persaingan dah semkin ketat krn seru nya pertandingan tdk d lihat dr brp gol tercipta melainkan momen2 yg tdk tercipta sebulum2 nya

  7. waha dasar, padahal saya pendukung setia perancis, world cup final 2006 bener2 yang paling mengesankan, zidane daripada kalah lebih baik membuat sensasi dengan menanduk materazi

    jumlah gol buat saya bukanlah kualitas suatu pertandingan, yang penting perasaan yang tertinggal di hati penonton usai pertandingan dan kenangannya, padahal cuma nonton “KOK” puas ya, gitu

  8. Gw juga, ga selalu suka pertandingan dari jumlah golnya, kadang lebih seru ngeliat kiper save keren (bukan penalti kena tiang terus dianggap kiper jago… :D :D), ato bola kena tiang, lebih terasa deg2an…

    Gw ga terlalu setuju either Italy ato Prancis yg menang… Italy… mulai dari lawan Aussie ampe Final.. hoki doang (diving menit akhir, penalty kena tiang)… Prancis.. walopun gw suka tapi pas final maennya ga bagus.. biasa aja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s